Pilih Microsoft Jadi Konsultan
Ditjen HaKI Lupa Ada IGOS?
- detikInet
Jakarta -
Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual (Ditjen HaKI) resmi memilih Microsoft sebagai konsultan teknologi informasi (TI). Aktivis Open Source I Made Wiryana berharap Ditjen HaKI belum lupa kalau ada IGOS. Masih ingat?Hal itu dikemukakan I Made Wiryana dalam bincang-bincang dengan detikinet, Rabu (25/05/2005). "Seharusnya Ditjen HaKI lebih 'fair' dalam memberikan pelatihan dan konsultasi, artinya baik proprietary maupun Open Source harus disertakan," ia menjelaskan. Proprietary adalah sebutan untuk jenis piranti lunak yang harus membayar lisensi sebelum menggunakannya. Contohnya Microsoft Windows atau Adobe Photoshop. Sedangkan Open Source merujuk pada software yang dikembangkan secara terbuka dan umumnya bisa didapatkan tanpa biaya lisensi. Made tidak menepis kemungkinan bahwa Microsoft lebih 'disukai' Ditjen HaKI karena memiliki dana untuk menyokong pelaksanaan pelatihan dan implementasi sistem TI. "Tapi kan bisa saja dalam acara sosialisasi kedua approach disertakan," tutur Made. Masih Ingat IGOS?Ia berharap Ditjen HaKI belum melupakan komitmen Departemen Kehakiman dan HAM atas penggunaan Open Source. "Harusnya, kalau Dirjen HAKI ingat akan penandatanganan IGOS, harusnya sudah menyertakan Open Source juga," pengajar di Universitas Gunadarma yang sedang mengambil program doktor di Jerman ini menambahkan.Indonesia Goes Open Source (IGOS) adalah inisiatif pemerintah untuk mendukung penggunaan piranti lunak Open Source di kalangan pemerintahan. Program yang dimotori oleh Kementerian Riset dan Teknologi bersama Departemen Komunikasi dan Informatika ini juga turut ditandatangani oleh Departemen Kehakiman dan HAM. Made menyayangkan jika Open Source tidak diikutsertakan dalam program tersebut. Menurutnya software bukan hanya masalah membayar lisensi tapi juga masalah kontrol. "Harusnya pemerintah lebih bijaksana, jadi mengajak semua pihak dalam masalah HaKI," ujar Made.Pria kelahiran Singkep, Riau, ini juga berharap pemerintah tidak melupakan peran aktivis Open Source di Indonesia yang giat mensosialisasikan masalah HaKI. "Jangan dilupakan dong, dari 1997-an rekan-rekan Open Source sudah mengingatkan hal ini (HaKI-red), sedangkan BSA dan Microsoft masih adem ayem," ia menambahkan.
(wsh/)