Warnet \'Penurut\' Dari Medan
Tetap Laris Meski Banyak Aturan
- detikInet
Jakarta -
Ada cerita menarik dari pemilik salah satu warung internet (Warnet) di Medan. Hartono, pemilik Warnet Dyton di Jalan Mayang No 8-9D, Medan, Sumatera Utara, membeberkan berbagai aturan yang diterapkan pada bisnis Warnetnya, dan tetap ramai didatangi pengunjung."Warnet saya banyak aturannya. Banyak situs yang diblok, beberapa aplikasi juga diblok," kata Hartono ketika berbincang dengan detikcom via telepon, Kamis (17/3/2005).Diceritakan Hartono, pihaknya rajin memblok situs-situs web berbau pornografi. Jadi situs-situs seperti www.playboy.com atau www.17tahun.com, sudah pasti tidak bisa diakses dari warnet ini. Selain itu, situs-situs yang berhubungan dengan segala jenis transasksi keuangan juga diblokir. "Kalau mau buka, harus bilang ke operator. Tapi pengunjung akan tetap diawasi," kata Hartono.Di Warnet yang buka 24 jam ini, pengunjung juga tidak bisa menggunakan layanan Telnet dan File Transfer Protocol (FTP). Pengunjung jadi tidak bisa meng-upload aplikasi apapun, kecuali file-file berekstensi .jpg, .bmp dan .txt.Tidak hanya itu, pengunjung juga tidak bisa men-download file apapun, dan dilarang membuka file berekstensi .exe, .rar dan .zip. Untuk melengkapi pengawasan Hartono juga mengoperasikan software pengawas, yang memonitor jenis situs web yang dibuka pengunjung. "Ini penting untuk mengetahui siapa mengunjungi situs apa," tuturnya memberi alasan.Hal lain yang tampak tidak biasa dari Warnet dengan 65 unit PC desktop ini, Dayton menata ruangan 6 x 25 meter tanpa menggunakan sekat pemisah. "Jadi antara satu pengunjung dengan pengunjung lainnya, bisa saling mengawasi karena tidak dipisah dengan sekat-sekat seperti pada kebanyakan Warnet pada umumnya," papar Hartono.Satu lagi, operator Warnet mempersilahkan guru atau petugas dari sekolah-sekolah untuk 'menangkap' siswa-siswa yang kedapatan berkunjung ke Warnet pada jam sekolah.Tetap Ramai PengunjungKetika ditanya alasannya menerapkan aturan-aturan tersebut, Hartono bertutur mantap."Menurut saya, kita lebih baik melakukan pencegahan daripada harus menghadapi berbagai kesulitan sebagai akibat dari masalah-masalah yang muncul kemudian," paparnya. "Karena kalau terjadi sesuatu, yang terdeteksi adalah internet protocol (IP) komputer dari Warnet sini. Selain itu, hal ini juga akan menghindari serangan virus. Kalau satu komputer terinfeksi, penyebarannya bisa berlangsung cepat ke puluhan komputer lainnya, sehingga bisa menyebabkan koneksi jebol."Selain masalah virus, masalah lain yang dimaksud Hartono adalah soal kejahatan cyber yang frekuensi kejadiannya tak kunjung surut. Kejahatan yang kerap dilangsungkan di Warnet ini, sering kali berbuntut penggrebegan aparat ke suatu Warnet. Tak jarang ada yang mengakibatkan penyitaan server, perangkat yang menjadi urat nadi aktivitas bisnis Warnet.Wah kalau begini caranya, bisa-bisa pengunjung risih dan tidak betah? "Saya rasa tidak. Warnet saya tetap ramai. Sejak menerapkan sistem ini tahun 2000 lalu, penurunan jumlah pengunjung memang sempat terjadi. Tapi itu tidak berlangsung lama, setelah itu kembali ramai seperti biasa," kata Hartono yang juga memiliki nama alias, Akuang.Diceritakannya, Warnet yang berdiri sejak tahun 1998 itu, memiliki fasilitas yang memadai yang diyakininya mampu membuat pengunjung betah dan setia. PC-PC yang digunakan, di-upgrade setiap 2 sampai 3 tahun sekali. Dan saat ini, Warnetnya dilengkapi PC berprosesor Intel Pentium IV 2,8 GHz untuk klien dan server, dengan jenis koneksi wireless.Selain itu, ruangannya dijaga agar bersih dan nyaman, lengkap dengan pendingin udara. Operatornya yang berjumlah 4 orang, diharuskan untuk melayani pengunjung dengan baik. Mereka diwajibkan berkeliling ruangan saat bertugas, sehingga bisa cepat memberi bantuan kalau ada pengunjung yang membutuhkan. Biaya aksesnya juga bersaing, Rp 2.500 per jam.Hartono menceritakan, usaha yang dirintisnya dengan modal awal Rp 850 juta termasuk untuk lokasi dan bangunan ini, mampu mengahasilkan laba Rp 5 juta sampai Rp 8 juta per bulan. Didirikan di dekat lokasi hunian yang cukup ramai ini, pengunjung warnet kebanyakan adalah orang-orang yang sudah dikenal operatornya.Warnet yang tetap laris meski banyak aturan ini, mengaku patuh terhadap aturan yang ada. Warnet ini punya izin usaha, izin gangguan (H0) dan rajin membayar pajak.
(nks/)