Senin, 30 Okt 2017 18:30 WIB

'Developer Lokal Banyak, Tapi Mager'

Rachmatunnisa - detikInet
Ilustrasi/Gettyimages Ilustrasi/Gettyimages
Jakarta - Pasar aplikasi mobile di Indonesia terus tumbuh seiring makin tingginya adopsi smartphone. Kondisi ini juga memicu semakin banyak developer aplikasi bermunculan.

CEO developer hub Dicoding Narenda Wicaksono tidak setuju jika Indonesia dikatakan kekurangan developer. Pasalnya, tolok ukur yang digunakan seringkali adalah Jakarta.

"Kita selalu lihatnya Jakarta. Di sini kurang. Perusahaan itu investment-nya kan besar untuk ini, gajinya gak kira-kira. Akhirnya banyak yang lari dan terserap ke sini ya habislah stoknya," kata Narenda dalam perbincangan beberapa waktu lalu.

Berdasarkan pengalamannya di Dicoding, ada banyak developer aplikasi lokal dari berbagai daerah di Indonesia yang mumpuni, tak hanya Jakarta, Bandung atau Jogja yang selama ini dikenal sebagai 'penghasil' developer.

"Dari luar kota itu banyak. Problemnya satu, mereka tidak teridentifikasi. Kedua, kadang mereka ini mager, gak mau pindah. Udah punya capability bagus gak mau pindah," kata Narenda.

'Developer Lokal Banyak, Tapi Mager'CEO Dicoding Narenda Wicaksono (Foto: Dicoding)


Dia lantas menceritakan beberapa lulusan terbaik Dicoding yang ditawarkan ke sejumlah perusahaan sebagai contohnya. Kasus pertama, lulusan tersebut terkendala soal bahasa.

"Dia gak pernah ngomong bahasa Inggris. Jadi ketika ada perusahaan yang tertarik sama dia, ternyata ada beberapa orang India di dalamnya, gak jadi. Dia mundur karena gak bisa bahasa Inggris. Padahal codingan-nya bagus banget. Kejadian kayak gini cukup banyak," paparnya.

Hambatan lainnya adalah soal budaya. Banyak developer daerah yang tidak berani merantau ke tempat lain. Narenda menyebut developer seperti ini malas gerak alias mager.

"Di daerah-daerah seperti Madura, sekitaran Jawa Timur itu aja banyak banget developer berkualitas dan bagus-bagus. Cuma kadang-kadang orangnya pada mager, atau ada juga yang orangtuanya gak mau ditinggal kerja jauh-jauh," ungkapnya.

Narenda berpendapat, selain kesiapan mental para developer, diperlukan juga dukungan pemerintah untuk membuat industri ini bisa menyebar hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

"Harusnya sih mungkin industrinya bisa desentralisasi ya. Kedua, ya harus bisa kerja remote (dari jarak jauh). Salah satunya dengan ada kurikulum kita di Dicoding adalah self learning, jadi melatih orang mandiri dan disiplin waktu mengerjakan sesuatu," sebutnya.

'Developer Lokal Banyak, Tapi Mager'Salah satu event developer Dicoding di daerah (Foto: Dicoding)


Kebutuhan Industri


Di sisi lain, banyaknya developer di Indonesia, menurut Narenda tidak diimbangi kurikulum dan pengajaran yang mumpuni. Alhasil, sektor ekonomi kreatif digital pun kekurangan sumber daya manusia yang siap bekerja dan mampu menguasai teknik coding yang relevan dengan kebutuhan industri.

Menjawab permasalahan tersebut, Dicoding pun membuka pendaftaran kelas 'Menjadi Android Developer Expert' (MADE). Ini adalah kelas unggulan Dicoding Academy angkatan kedua yang digelarnya. Tahun lalu, ada 2.100 peserta yang belajar coding dari kelas MADE angkatan pertama.

Kelas ini menawarkan pembelajaran online mengenai membangun aplikasi di atas sistem operasi Android yang mencakup materi Testing, Debugging, Application, Application UX, Fundamental Application Components, Persistent Data Storage, dan Enhanced System Integration dalam 125 modul berbahasa Indonesia, 35 video tutorial, 24 quiz, dan dengan target penyelesaian 90 hari.

Sebagai Google Authorized Training Partner di Indonesia, Narenda mengklaim Dicoding telah melalui proses penyusunan kurikulum secara komprehensif yang diverifikasi langsung oleh Google, untuk memastikan bahwa materi yang diajarkan relevan dan sesuai dengan kebutuhan industri digital.

Berdasarkan pengamatan dan pengalamannya, Nurendratoro Singgih, salah satu member Dicoding Elite memberikan bocoran mengenai profesi developer apa saja yang banyak dicari industri saat ini.

"Pertama, mobile apps developer pasti ya untuk Android dan iOS. Kedua, automated testing, itu orang yang bikin kode UI testing buat Android, web, disebut juga QA engineering atau quality assurance engineering," sebutnya.

Terakhir, menurutnya, industri ekonomi digital kreatif saat ini juga mengincar cukup banyak developer operation.

"Seperti Sys admin tapi lebih advance. Dia ngerti server, ngerti hardware ngerti deployment environment, mindahin satu infrastruktur yang sudah jadi dipindah ke satu infrastruktur lain. Dia developer juga tapi ngurusin operation juga," paparnya.

Nah, mungkin kalian salah satunya? (rns/fyk)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed