Sabtu, 28 Okt 2017 09:42 WIB

Telkomsel Bakal Ganti Strategi di NextDev 2018

Josina - detikInet
Foto: Josina/detikINET Foto: Josina/detikINET
Jakarta - Dari tiga kali gelaran Telkomsel NextDev, pesertanya selalu didominasi dari Pulau Jawa, dengan persentase lebih dari 50%, yang membuat operator plat merah itu akan mengganti strateginya.

Untuk tahun 2017 dari 1.797 aplikasi mobile yang masuk, Pulau Jawa mendominasi dengan nilai persentase 69.7%, di urutan kedua dari Sumatra 16.70%, ketiga 7.50% dari Sulawesi, keempat 3.80% dari Kalimantan, 2.40 dari Kepulauan Nusa Tenggara lalu dari daerah di bagian Timur dengan menyumbang 0.2% dari Maluku dan 0.1% dari Papua

Dengan kecilnya angka-angka di luar Pulau Jawa menjadi strategi baru bagi Telkomsel untuk NextDev di tahun berikutnya yakni dengan menyambangi kota-kota kecil di Indonesia.

"Di 2018, strateginya akan sedikit berbeda. Kita akan lebih menyasar second city bukan lagi big city. Second city misal seperti Banyuwangi, Madiun, Sorong, Ternate. Karena sudah hampir dua tahun kita datengin di kota besar yang sama," ujar Vice President Corporate Communications Telkomsel Adita Irawati disela-sela acara pengumuman 20 finalis NextDev 2017 Jumat (27/10/2017) di JSC Hive, Kuningan, Jakarta.

Dikatakan Adita, animo masyarakat Indonesia terhadap pengembangan aplikasi dan membangun startup terutama di bagian timur sangat tinggi namun mereka terhalang dengan komunitasnya yang belum matang hal ini berbeda jauh jika dibandingkan dengan Pulau Jawa ataupun Sulawesi.

Menyikapi hal tersebut, diakui Adita perkembangan layanan infrasktruktur telekomunikasi juga menjadi salah satu faktor di daerah-daerah kecil. Telkomsel pun telah membangun jaringan infrastruktur fiber optik untuk memperkuat layanan broadband disana sehingga masyarakat disana mendapatkan layanan yang lebih baik.

"Dulu infrastrukturnya masih menggunakan satelit sehingga layanan broadband di sana sangat mahal. Kita sudah membangun fiber optik jaringan yang lebih berkualitas dan layanan dari Telkomsel pun semua sama rata antara Indonesia Barat, Tengah maupun Timur," imbuhnya

Ia juga menjelaskan untuk faktor kecepatan berselancar internet bisa disebabkan beberapa faktor yang datang dari daerah tersebut misal gempa sehingga membuat jaringan fiber optinya putus.

Adita berharap dengan kualitas layanan broadband yang sudah ada saat ini bisa untuk dimanfaatkan bukan hanya saja sebagai konsumsi data seperti browsing media sosia tetapi lebih ke sesuatu yang produktif.

Seperti dapat menggali ilmu-ilmu dari internet seputar mengembangkan dunia startup sehingga di tahun depan bisa bersaing untuk masuk ke dalam 100 atau bahkan 20 besar di ajang The NextDev tahun berikutnya.

"Memang ketika aplikasi mereka harus diperbandigkan kemudian dikompetisikan dengan lain kita harus akui mungkin kualitasnya tidak seperti di daerah-daerah lain seperti Jawa dan Sulawesi, namun positifnya ada kawasan (Indonesia Timur) baru yang sebelumnya tidak ada," pungkasnya.

Berikut adalah daftar 20 finalis NextDev 2017, terlihat kota Surabaya mendominasi dengan empat aplikasinya.

e-health
Medicaboo - (Pekanbaru)
Comrades - (Bandung)
I Care Indonesia - (Jakarta)
Siaga Air Bersih - (Surakarta)
Lactachare - (Malang)
Cek Mata - (Surabaya)

e-education
Squline - (Jakarta)
Qeedee - (Depok)
Kapiler - (Depok)
Edubraille - (Surabaya)

e-agriculture
Karapan - (Surabaya)
Kopitani.id - (Makassar)
Pak Tani Digital - (Medan)
Lindungi Hutan - (Semarang)
Bantu Ternak - (Yogyakarta)
Growpal - (Surabaya)

e-transportation
Marlin Booking - (Batam)
Botika - (Yogyakarta)
Share Trans - (Denpasar)
Go bandung Displin - (Bandung)

[Gambas:Video 20detik]

(jsn/asj)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed