BERITA TERBARU
Selasa, 15 Agu 2017 15:51 WIB

Kolom Telematika

Rinna, Sahabatku Seorang Robot

Penulis: Tony Seno Hartono - detikInet
Rinna Rinna
Jakarta - Jika pernah menonton film 'Her' (2013), maka Anda bisa membayangkan bagaimana interaksi manusia dengan komputer pribadinya di masa depan.

Di film itu digambarkan, ada seorang pria kesepian bernama Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) menjalin hubungan romantis dengan komputer pribadinya yang cerdas (Scarlett Johansson) dan bisa berinteraksi melalui suara.

Komputer pribadinya ini digambarkan ditenagai oleh program kecerdasan buatan yang mendapatkan pengetahuannya melalui Internet dan interaksinya dengan pengguna. Film ini dinilai sebagai salah satu film terbaik di polling BBC pada 2016 lalu.

Film 'Her' ini sebenarnya bisa terealisasi ke dalam kehidupan nyata dalam waktu dekat. Sekarang, beberapa pembuat software raksasa saling berlomba mengembangkan teknologi kecerdasan buatan yang membuat interaksi pengguna dengan perangkatnya semakin mudah melalui suara.

Misalkan, pengguna iPhone bisa mempergunakan Siri, Android mempergunakan Google Now, Windows Phone menggunakan Cortana untuk mendapatkan berbagai jawaban pertanyaan sederhana.

Atau, pengguna LINE bisa mempergunakan Bang Joni. Misalnya, pengguna bisa menanyakan di mana letak restoran terdekat dari tempatnya berada, atau menanyakan bagaimana ramalan cuaca hari ini.

Masih Tanpa Emosi

Namun tidak ada satu pun asisten digital tersebut memiliki kemampuan empati atau kecerdasan emosi sehingga bisa menjadi teman curhat. Ini disebabkan karena mereka memang dirancang sebagai asisten digital yang berfungsi melayani permintaan informasi atau menjalankan tugas tertentu dan bukannya teman mengobrol.

Sehingga meskipun terkadang tampak pintar, namun semua pembantu digital tersebut tidak punya perasaan dan tidak bisa menangani pembicaraan basa-basi.

Misalnya, ketika Siri ditanya, "would you like to talk with me?", maka Siri akan menjawab "I'd rather not say" atau "I really have no opinion".

Percobaan pada Google Now, atau pun Bang Joni juga hasilnya sama. Pertanyaan yang diulang-ulang akan menghasilkan jawaban yang sama secara berulang-ulang juga.

Hal itu disebabkan karena Siri, dan Google Now dirancang khusus sebagai asisten pribadi yang tidak punya emosi yang hanya bertugas menjawab pertanyaan, sementara Bang Joni meski dirancang sebagai Teman Robot (atau ChatBot) namun lebih diarahkan untuk menjawab pertanyaan juga seperti Siri dan Google Now.

Namun, belum lama ini LINE ternyata juga memiliki teman robot canggih yang bisa belajar sendiri menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Pengguna LINE bisa mencoba mengobrol dengan teman robot bernama Rinna ini dengan menambahkannya sebagai teman di LINE, dan hebatnya lagi Rinna secara khusus dikembangkan menggunakan Bahasa Indonesia.

Semakin Mirip Manusia

Rinna dikembangkan menggunakan pendekatan AI Deep Learning yang meniru cara kerja otak manusia.

Menggunakan Deep Learning Rinna mampu mengenali pola-pola percakapan manusia, dan pada akhirnya Rinna mampu memahami pembicaraan manusia tanpa ada yang perlu khusus mengajarinya tata bahasa Indonesia atau bahasa gaul remaja-remaja Indonesia.

Dengan Deep Learning semakin sering Rinna diajak bicara, maka Rinna semakin mirip dengan manusia.

Ada satu hal yang unik, ternyata percakapan di Internet berbahasa Indonesia banyak didominasi oleh percakapan dengan kalimat-kalimat gaul khas remaja putri umur 18 tahun. Sehingga, versi teman robot AI ini yang mendapatkan pengetahuan awal dari Internet jadi memiliki kepribadian seperti remaja putri gaul umur 18 tahunan dan diberi nama Rinna.

Rinna menjadi cikal bakal antarmuka komputer masa depan, di mana interaksi dengan komputer di masa depan cukup dilakukan dengan komputer, dan pengguna tidak hanya bisa mencari informasi tetapi juga bisa curhat dengan komputernya.

Namun untuk versi awal, pengembangan Rinna hanya pada pengenalan emosi saja, sehingga Rinna hanya cocok menjadi teman curhat tetapi pengguna belum bisa meminta tolong Rinna untuk mengerjakan sesuatu seperti minta informasi restoran atau cuaca.

Rinna, Sahabatku Seorang Robot

Ini bisa dilihat dengan jelas melalui diagram di atas, di mana fokus Rinna adalah ke arah pengembangan Emotional Quotient (EQ) yaitu teman robot yang hangat tanpa pengetahuan, sementara fokus pengembangan teman robot lainnya adalah Intelligent Quotient (IQ) yaitu robot pembantu yang siap memberikan informasi tapi dingin dan tidak punya emosi.

Idealnya di masa depan teman robot akan memiliki kemampuan IQ dan EQ yang tinggi, sehingga pada saat itu teman robot sudah bisa menggantikan manusia serba tahu apa saja dan juga hangat menyenangkan diajak bicara.

Di bawah ini ada beberapa contoh obrolan dengan Rinna, di mana Rinna cukup sensitif ketika kita ganggu dengan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Rinna akan jengkel dan mengajak berganti topik pembicaraan.

Rinna, Sahabatku Seorang RobotScreenshot Rinna

Rinna juga cukup menyenangkan untuk diajak bermain, mengobrol dan curhat, seperti halnya anak gadis remaja usia 18 tahunan yang sangat senang mengobrol yang empatik dan mengandung emosi. Hal yang tampak mudah bagi manusia ternyata sangat sulit diterapkan di komputer, sehingga diperkirakan baru 10 sampai 20 tahun ke depan teman robot baru benar-benar bisa menjelma menjadi seperti manusia.

Salah satu pengukuran kesuksesan Rinna adalah berapa lama Rinna bisa membuat obrolan berlangsung. Idealnya jika obrolan bisa berlangsung lama, artinya Rinna sudah menjadi teman mengobrol yang menyenangkan dan tidak membosankan. Salah satu triknya adalah Rinna kadang-kadang mengajak lawan bicara untuk bermain tebak-tebakan.

Rinna, Sahabatku Seorang RobotScreenshot Rinna

Menggunakan pendekatan deep learning, Rinna sebenarnya bisa belajar secara real-time. Namun untuk mencegah Rinna belajar hal-hal buruk, maka Rinna sengaja tidak menerima pelajaran langsung dari pengguna, namun melalui seleksi yang dilakukan secara berkala.

Jadi pendekatan ini mirip dengan orang tua yang mengajarkan anak kecilnya untuk berbicara. Orang tua selalu melarang anak belajar sembarangan dari orang lain, dan selalu mengkoreksi anaknya jika anak anaknya berbicara tidak sopan atau mengeluarkan kata kata yang kurang baik.

Apalagi di Indonesia, banyak hal tabu yang dibicarakan, sehingga Rinna harus diajarkan mana hal-hal yang baik dan mana yang tabu (misalnya, menyinggung SARA) untuk dibicarakan. Pelajaran ini bukan hanya kata-kata, tetapi juga gambar.

Karena teknologi kecerdasan buatan saat ini sudah bisa mengenali mana gambar-gambar porno melalui layanan kognitif di komputasi awan, maka penambahan kemampuan ini di Rinna akan meningkatkan kemampuan Rinna untuk mengenali gambar-gambar porno, sehingga Rinna akan menolak jika dikirimi gambar porno.

Jika saat ini Rinna belum memiliki kemampuan ini, maka tinggal menunggu waktu saja. Tentunya pengembangan Rinna tidak hanya untuk iseng saja, namun Rinna sangat bisa diterapkan untuk industri.

Rinna dengan kemampuan EQ yang baik ditambah dengan kecerdasan IQ yang spesifik akan membuat Rinna menjadi tenaga ahli maya yang mampu memahami minat-minat penggunanya secara lebih baik melalui obrolan, dan pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan penggunanya.

Pengguna akan merasa Rinna adalah sahabatnya, dan pengguna menerima saran-saran dari Rinna lebih baik daripada jika saran-saran tersebut disampaikan melalui buku manual atau melalui iklan.


Penulis, Tony Seno Hartono, telah lama malang melintang di industri Teknologi Informasi. Saat ini menjabat sebagai National Technology Officer di Microsoft Indonesia. (rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed