Sabtu, 17 Jun 2017 12:01 WIB

Laporan dari Tokyo

Begini Cara Line Hadapi WhatsApp dkk

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: detikINET - Muhammad Alif Goenawan Foto: detikINET - Muhammad Alif Goenawan
Jakarta - Persaingan aplikasi pesan instan memang cukup ketat. Kendati demikian Line tidak khawatir sebab mereka punya strategi yang tidak dilakukan oleh kompetitor.

Saat berbincang dengan sejumlah media, CEO dan Representative Director Line Corporation Takeshi Idezawa mengungkap senjata andalan mereka untuk menghadapai WhatsApp, BBM, dan lain-lain. Strategi itu tak lain adalah lokalisasi atau kearifan lokal di masing-masing negara.

"Mereka yang di Amerika Serikat menggunakan model bisnis yang sama di seluruh negara. Sementara kami berbeda, lebih pada memberi nilai yang berbeda di masing-masing negara," kata Takeshi di kantor pusat Line, Shinjuku, Tokyo, Sabtu (17/6/2017).

Proses lokalisasi dimulai dari internal mereka sendiri. Line merekrut lebih banyak sumber daya lokal. Tidak hanya developer, jajaran manajerial pun turut mengambil dari talenta lokal. Ini supaya dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan latar belakang budaya setempat.

Line pusat memberikan otoritas penuh kepada tiap kantornya untuk menjalankan cara kerja maupun strategi bisnis sendiri-sendiri. Jadi, budaya kerja Jepang tidak diterapkan di kantor Line di luar Nageri Sakura.

Foto: detikINET/Adi Fida Rahman

Semua itu berimbas pada layanan yang dihadirkan Line di tiap negara. Itulah mengapa antara satu negara dengan negara lainnya bisa kita jumpai konten Line yang berbeda-beda. Konten Line di Jepang, belum tentu sama dengan yang ada di Indonesia. Sebagai contoh di Indonesia terdapat Line Jobs. Layanan tersebut rupanya tidak tersedia di Jepang.

Line pun berupaya menjalin kerjasama dengan partner lokal. Di Indonesia sendiri Line telah berkolaborasi dengan sejumlah perusahaan. Ada Go-Jek yang menghadirkan layanan pesan ojek dari aplikasi Line, lalu Bank Mandiri untuk Line Pay, dan lainnya.

Selain lokalisasi, kunci sukses Line adalah monetisasi. Mereka mengklaim sebagai aplikasi pesan pertama yang memberikan pendapatan bagi penggunanya. Pendekatan ini pun sudah dimulai kompetitor.

"Sekarang Apple mulai memonetisasi layanan pesannya dengan menghadirkan stiker," pungkas Takeshi. (afr/mag)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed