Minggu, 04 Jun 2017 19:26 WIB

Ramai-Ramai Kampanyekan Koalisi Anti Persekusi

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: ilustrator Mindra Purnomo/detikcom Foto: ilustrator Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta - Maraknya aksi persekusi belakangan ini, membuat masyarakat resah dibuatnya. Tak hanya mengancam tatanan demokrasi, persekusi juga berupaya untuk kebebasan berekspresi di media sosial. Melihat adanya gejala tersebut, netizen ramai-ramai mengkampanyekan Koalisi Anti Persekusi.

Persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Aksi ini belakangan sering terjadi di media sosial (medsos), seperti Facebook, Instagram, hingga Twitter.

Bila ada yang mengunggah status di medsos untuk mengungkap pandangannya, tetapi ada kelompok yang tidak setuju, maka kelompok itu akan melakukan pemburuan hingga melakukan teror terhadap orang tersebut. Kasus ini telah menimpa dokter Fiera Lovita hingga remaja insisial M di Cipinang yang dintimidasi oleh kelompok karena dituduh menghina ulama.

Sejumlah netizen pun menggemakan Koalisi Anti Persekusi, di mana Koalisi Anti Persekusi ini wadah bagi masyarakat yang ingin meminta bantuan hukum lantaran merasa diancam atau diintimidasi karena tulisan atau postingan di medsos. Poster Koalisi Anti Persekusi pun menggurita di jagat maya.

Isi dari poster tersebut bertuliskan untuk mengadukan bilamana Anda atau di sekelilingnya mendapat aksi persekusi atau mendapat ancaman dan intimidasi ke Koalisi Anti Persekusi. Selain itu juga, kampanye ini bentuk untuk melawan gejala persekusi yang makin meresahkan.

"Diancam atau diintimidasi sebab tulisan atau komentar anda di sosial media? Hubungi hotline Koalisi Anti Persekusi: 0812-8693-8292," cuit AJI Indonesia di akun twitternya.

Ramai-Ramai Kampanyekan Koalisi Anti PersekusiFoto: Screenshot Twitter
"Buat kawan-kawan yang anti persekusi, hindari ikut-ikutan membuka data pribadi pelaku persekusi. Apalagi data/foto keluarganya. Irelevan & tak adil," ucap putri sulung Abdurahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid di akun Twitter-nya @AlissaWahid.

Selain itu, pakar Media Sosial seperti Nukman Luthfie, Regional Coordinator Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), Damar Juniarto. "Jangan lawan persekusi dengan melakukan persekusi. Persekusi adalah tindakan melawan hukum. Ada pidananya," kata Damar di akun Twitter-nya.

Sementara itu dikutip dari akun Instagram Ruang Literasi, menuturkan pelaku intimidasi juga kerap memalsukan akun-akun pengguna media sosial yang berasal dari etnis/agama minoritas, mengambil foto dan identitas pemilik akun asli. Pemalsu akun lantas memposting konten yang menghina ulama supaya oemilik akun asli menjadi target initimidasi.

"Aksi ini mengancam demokrasi karena sekelompok orang mengambil alih peran negara untuk menetapkan orang bersalah dan menghukum mereka. Ini adalah upaya untuk menyebarkan teror supaya kita takut untuk menyampaikan pendapat, berdebat secara damai, dan menyikapi perbedaan secara dewasa," tulisnya. (asj/asj)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed