BERITA TERBARU
Senin, 24 Apr 2017 14:11 WIB

Ceruk Filantropi di Era Digital

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: GettyImages Foto: GettyImages
Jakarta - Tak hanya Bill Gates saja yang rajin berderma. Manusia pada umumnya memang punya naluri untuk saling membantu satu sama lain. Termasuk di era digital saat ini.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang tercepat untuk urusan adopsi teknologi. Technology savvy dan mobile first users adalah langgam yang diterima Indonesia oleh lembaga riset global hingga analis ekonomi.

Faktanya memang demikian. Riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) per Oktober 2016 menyebutkan, pengguna internet mencapai 132,7 juta atau setara 51,7% dari populasi.

Fakta lainnya, jumlah pengguna telepon selulernya diprediksi menembus 173 juta tahun ini. Sekitar 98 persen orang Indonesia memiliki satu akun media sosial, dan pengguna Facebook dari Indonesia 80 juta orang, keempat terbesar di dunia.

Ya, tren digital menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia kini, terutama di kalangan muda dan di kota-kota besar atau urban. Mulai dari mencari hiburan, membantu pekerjaan, hingga belanja kebutuhan sehari-hari bisa dilakukan lewat laptop atau smartphone.

Kian hari pemanfaatan teknologi digital kian masif dan berkembang, yang ditandai dengan maraknya platform online di layanan jasa keuangan (financial technology/fintech).

Menariknya, di luar tren layanan fintech, kegiatan pengumpulan dana masyarakat untuk sosial (filantropi) secara online diam-diam juga bersemi. Padahal biasanya urusan duit ini 'sensi' bagi masyarakat Indonesia.

Kesadaran munculnya kekuatan platform online untuk beragam aktivitas, ternyata mampu menjadi alternatif kegiatan filantropi. Bahkan penggunaan platform tidak hanya dilakukan untuk menjaring lebih banyak donatur, tapi juga idealnya digunakan untuk melakukan monitoring dan evaluasi program itu sendiri.

"Dalam kegiatan konservasi, kami sudah lama memanfaatkan teknologi, termasuk teknologi komunikasi dan informasi. Penggunaannya merata dalam beragam aktivitas organisasi, terutama yang melibatkan stakeholders secara luas" ujar Dini Indrawati Septiani.

Dini sendiri merupakan Associate Director of Philanthropy di lembaga nonprofit internasional yang bergerak di bidang lingkungan dan konservasi alam.

Sejak 2015, Dini dan lembaganya menjaring donatur dari beragam latar belakang dan warga negara untuk mendukung program konservasi alam di 69 negara termasuk Indonesia. Dan saat ini di organisasi lingkungan hidupnya, ada program community development untuk 600 desa hingga tahun 2020.

Program community development termasuk di dalamnya pendidikan dan kesehatan, sehingga di satu desa membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Dengan target begitu besar dan jangka waktu singkat, maka mengoptimalkan penggunaan teknologi digital adalah salah satu kunci sukses organisasinya.

Lulusan Master Psikologi Intervensi Sosial jebolan Universitas Indonesia ini menyatakan kemajuan teknologi komunikasi berdampak luas dan positif untuk mengampanyekan pentingnya konservasi lingkungan hidup dalam bentuk tindakan kesukarelaan.

"Jika kita sudah mampu mengintervensi dan membangun kesadaran publik akan pentingnya perlindungan lingkungan dan bersikap terhadap hal tersebut, terbuka beragam cara unuk mendapatkan dukungan pendanaan, temasuk melalui platform donasi online" jelas Dini.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital untuk kegiatan sosial dan lingkungan adalah suatu keharusan. Mengingat revolusi digital sudah merasuki hampir semua kalangan di Indonesia, termasuk bawah sekalipun.

Maka itu, dirinya percaya sekali digitalisasi bisa sangat membantu kesuksesan program-program sosial di masyarakat. "Ironi, jika kita tidak memanfaatkan kemajuan teknologi demi menunjang kegiatan sosial," ujar Dini

Aksi Galang Dana Lewat Online

Tengok saja Kitabisa.com, situs penggalangan dana dan donasi secara online yang dirintis sejak 2013. Per April tahun ini, dana yang dikumpul Kitabisa.com dari publik mencapai Rp 100,16 miliar. Dana tersebut berasal dari 4.707 kampanye/proposal dan 275 ribu donatur.

"Pada periode 2015-2016, Kitabisa tumbuh 800 persen. Ini di luar ekspektasi dan lebih tinggi dari prediksi kami," ujar Alfatih Timur, Chief Executive Officer (CEO) Kitabisa.com.

Pesatnya pertumbuhan penggalangan dana di situsnya antara lain didorong tren digital di kalangan generasi Y atau milenial Indonesia. Ini akan semakin besar dan masif, lantaran dibarengi dengan lahirnya generasi belanja online, yang didorong booming-nya situs belanja online (e-commerce).

Prediksi Alfatih, generasi belanja online akan melakukan donasi juga secara online. Maka itu, potensi penggalangan dana publik baik untuk tujuan sosial maupun usaha (crowdfunding) sangat besar di Tanah Air. Apalagi sebuah survei internasional menyebutkan, Indonesia masuk kelompok lima negara dengan filantropi terbesar di dunia.

Dompet Dhuafa, yang lebih berpengalaman mengelola dana umat sejak 1994, juga mengalami perkembangan dana umat yang semakin besar, berkat pemanfaatkan teknologi internet serta praktek penggalangan dana yang baik.

Laporan keuangan Yayasan Dompet Dhuafa 2015, penerimaan dana umat mencapai Rp 276,5 miliar. Zakat menjadi penerimaan terbesar, yakni Rp 147, miliar, disusul infak terikat Rp 44,5 miliar, dan infak Rp 37 miliar.

Dari penerimaan itu, total penyalurannya Rp 269 miliar, yang terbesar untuk program kesehatan Rp 56 miliar. Berikutnya, program pendidikan Rp 51 miliar dan program ekonomi Rp 49 miliar.

Imam Rulyawan, Direktur Utama Dompet Dhuafa, menjelaskan dunia digital sudah menjadi gaya hidup, termasuk untuk kebutuhan spiritual. Ini menjadi peluang bagi lembaga filantropi untuk up-to-date, sesuai zaman.

"Dampaknya sangat besar. Melalui teknologi digital ini, kami lebih efektif, khususnya kepada mitra Dompet Dhuafa di kota-kota besar terutama usia muda secara umum," pungkasnya. (rou/fyk)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed