Jumat, 21 Apr 2017 10:27 WIB

Kartini Masa Kini

'Tanggung Jawab Pemimpin Perempuan 4 Kali Lebih Berat'

Adi Fida Rahman - detikInet
Dian Siswarini (tengah). Foto: Adi/detikcom Dian Siswarini (tengah). Foto: Adi/detikcom
Jakarta - Menjadi seorang pemimpin bukanlah tugas ringan, terlebih bagi perempuan. Sejumlah aspek membuat tugas tersebut jadi empat kali lebih berat.

Hal tersebut dirasakan oleh Dian Siswarini saat menjalankan tugasnya sebagai CEO XL Axiata. Kala mendapatkan amanah tersebut, dia tidak membayangkan harus melakukan pembuktian seperti banyak orang katakan. Di kepalanya hanya terpikir itu adalah amanah yang berat.

"Ini merupakan amanah terberat, tidak terpikir membuktikan sesuatu. Karena sekian juta pelanggan harus dilayani, di belakang saya ada ribuan karyawan dan keluargnya yang jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah karyawan. Adapula investor yang sudah menyimpan uangnya di perusahaan kami, selain itu stakeholder dan yang lain. Jadi itu amanah yang amat berat," kata Dian di acara Kartini Masa Kini yang digelar detikcom di Jakarta.

Setelah menjalani peran menjadi CEO, barulah ia menyadari apa yang dikatakan banyak orang ada benarnya. Menjadi pemimpin perempuan harus melakukan pembuktian.

"Orang bilang bahwa perempuan harus dua kali pembuktian, ternyata itu bohong. Malah empat kali lebih berat dan susah," ujar perempuan berkacamata itu.

Hal itu terjadi lantaran ekspektasi terhadap pemimpin perempuan jauh lebih besar. Tidak saja datang dari lingkungan kantor, tapi juga keluarga dan masyarakat.

Umumnya ekspektasi yang timbul pemimpin perempuan itu tidak saja lihai dalam bekerja. Tapi dituntut pula mampu berpenampilan menarik.

Selain itu mereka kerap dibanyangi pertanyaan kariernya memang bagus, tapi bagaimana keluarganya terpelihara atau terurus dengan baik atau tidak.

Tidak heran Dian kerap mendapat pertanyaan bagaimana membagi waktu antara karier dan keluarga. Padahal menurutnya, pertanyaan serupa harus pula ditanyakan ke pemimpin pria.

"Membagi waktu antara kerja dan keluarga bukan berlaku untuk kaum wanita saja. Pemimpin pria juga punya kewajiban yang sama terhadap keluarga," tutur perempuan kelahiran Majalengka itu.

Dian berharap di masa depan tidak ada lagi pengotakan antara pemimpin pria atau wanita. Karena keduanya punya peran dan tanggung jawab yang sama

"Impian saya nantinya tidak ada istilah pemimpin perempuan atau pemimpin laki-laki, adanya pemimpin. Tidak ada julukan female CEO atau male CEO, adanya CEO. Karena sama saja (tugas dan tanggung jawabnya," pungkas bos operator XL ini. (afr/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed