Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Laporan dari Bern
Startup di Swiss dan Indonesia Punya Masalah Sama, Apa Itu?
Laporan dari Bern

Startup di Swiss dan Indonesia Punya Masalah Sama, Apa Itu?


Anggoro Suryo Jati - detikInet

Foto: Tim Habibi Garden, (ki-ka) Dian Prayogi Susanto, Irsan Rajamin, Rahmat Adhi Pratomo. (detikINET/Anggoro Suryo Jati)
Bern - Swiss adalah salah satu negara maju di Eropa yang sudah mapan dalam berbagai aspek, utamanya teknologi dan sains. Namun startup di negara yang beribukota di Bern itu punya masalah yang sama dengan Indonesia.

Masalah itu adalah soal pendanaan, seperti disampaikan oleh CEO Teleport, dalam diskusi bertitel 'Silicon Valley vs Silicon Valais' dan diadakan oleh Swiss Tech Association di Bern, Selasa (21/2/2017).

Sementara di Swiss, kebanyakan investor sekadar memberikan suntikan dana tanpa memberikan pelatihan. Dan parahnya, mereka menginginkan startup tersebut untuk bisa balik modal dalam waktu yang cepat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para investor pun kerap kali menerapkan syarat-syarat yang menurut Bozovic cukup menggelikan. Contohnya adalah investor yang awalnya bersedia memberikan suntikan dana cukup besar, namun kemudian meminta diskon besar saat nantinya ada pendanaan tahap kedua.

Startup di Swiss dan Indonesia Punya Masalah Sama, Apa Itu?Foto: detikINET/Anggoro Suryo Jati


"Misalnya ada yang mau memberikan investasi sebesar USD 500 ribu, namun saat nantinya startup tersebut membuka pendanaan tahap kedua, mereka meminta diskon 50%," ujar Bozovic.

Lalu ada juga investor yang mau memberikan suntikan dana secara bertahap, dan suntikan dana itu diberikan setiap startup tersebut memenuhi sebuah target. Hal itu tentu sangat menyulitkan startup tersebut karena hanya pendanaan yang diberikan secara bertahap itu biasanya terlalu kecil.

Menurut Irsan Rajamin, CTO Habibi Garden yang merupakan salah satu pemenang The Nextdev 2016, hal ini juga lazim terjadi di Indonesia. Menurutnya, kepercayaan investor terhadap startup baik Swiss maupun Indonesia cenderung sama, yaitu masih rendah.

"Iklim investasi terhadap startup di Swiss dan Indonesia belum terbangun. Contohnya seperti yang diceritakan Bozovic, ada yang mau invest tapi dikit-dikit, paymentnya bertahap. Jika kalau tahap pertama sudah gagal, bakal langsung di-cut dananya," ujar Irsan saat ditemui detikINET di sela-sela Management Trip ke Swiss dan Prancis yang diberikan untuk para pemenang The Nextdev 2016, Rabu (22/2/2017).

Ucapan Irsan ini juga diamini juga oleh Dian Prayogi Susanto CEO Habibi Garden. Menurutnya hal ini yang membedakan iklim investasi startup di Silicon Valley dengan Indonesia dan Swiss, di mana para investor tak mau mengambil risiko.

"Di Silicon Valley investor bisa memberi masukan untuk pivot ke arah mana, kalau di sini (Swiss) dan Indonesia, investor lepas tangan. Kalau mau seperti itu baiknya sih investasi yang konvensional saja, jangan startup," pungkas pria yang akrab disapa depe ini. (rns/rns)
TAGS





Hide Ads