Setidaknya demikian hasil survei yang dilakukan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel). Dari 1.116 responden yang disurvei, 90,30% menyatakan kalau berita hoax itu sengaja dibuat.
Sebanyak 61,60% juga mengetahui bahwa hoax adalah berita menghasut. Selain itu, 59% berpendapat hoax adalah berita tidak akurat, 14% mengatakan hoax sebagai berita ramalan atau fiksi ilmiah, 12% mengatakan hoax menyudutkan pemerintah, 3% menganggap hoax berita yang tidak disukai, dan 0,60% menjawab tidak tahu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kristiono melanjutkan, sikap kritis dari masyarakat menyikapi hoax itu antara lain terlihat dari 54,10% yang mengetahui bahwa sumber berita hoax tidak jelas, sehingga 83,20% responden langsung mengecek kebenaran informasi tersebut. Sebanyak 15,90% menghapusnya dan mendiamkannya, dan hanya 1% yang langsung membagi hoax tersebut.
Dari yang hanya 1% itu, alasan responden meneruskan hoax karena menganggap berita tersebut dapat dipercaya (47,10%), mengira ada manfaatnya (31,90%), menganggap informasi tersebut benar (18%), dan ingin dilihat sebagai orang pertama yang tahu (3%).
Survei mengenai hoax ini dilakukan pada 7-8 Februrari 2017. Selama 48 jam, Mastel melakukan survei secara online dan direspons oleh 1.116 responden dengan berbagai variasi usia, yaitu 25-40 tahun (47,80%), di atas 40 tahun (25,70%), 20-24 tahun (18,40%), 16-19 tahun (7,70%) dan di bawah 15 tahun (0,40%). (rns/rns)