Belum lagi dengan meningkatnya kasus rasis dan kebencian terhadap masyarakat muslim yang membuat banyak orang merasa iba. Beberapa orang-orang muslim berusaha meredakan Islamophobia dengan menggelar kegiatan positif.
Berbeda dengan fotografer yang satu ini. Fotografer Amerika Serikat bernama Mark Bennington membuat proyek foto yang bisa menyentuh hati kita semua. Proyek foto yang dinamakan 'America 2.0' itu bercerita tentang kisah para generasi muslim muda di New York yang mungkin bisa menjadi pemimpin selanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyek 'America 2.0' berisi foto wanita dan pria muslim yang berbeda-beda. Pemotretan dilakukan selama kurang lebih empat bulan sejak Juli sampai Oktober 2016. Tidak hanya foto, ada pula kisah dan pendapat dari setiap orang yang dipotret oleh Bennington sebagai penyempurna proyeknya.
Foto: Mark Bennington |
Bennington mengangkat sosok pemuda muslim Amerika melalui kegiatan sehari-harinya. Topik pertanyaan mulai dari seputar sekolah, teman, kencan, musik, identitas, hingga politik. Kisah setiap orang dituliskan sebagai quotes di bawah foto masing-masing.
Salah satunya berangkat dari cerita gadis berhijab dari Brooklyn yakni Mosammet. Gadis 17 tahun itu mengatakan bahwa ia adalah seorang imigran dan Mosammet juga keluarganya pernah disebut teroris. Meski mendapat perlakukan tidak menyenangkan ia mengaku tetap cinta Amerika.
"Aku tidak terima bila seseorang menyebut keluargaku pembunuh atau pencuri. Aku juga tidak terima ketika ibuku atau saudaraku dipaksa melepas jilbab mereka. Tapi sebagai warga Amerika, aku tidak pernah kecewa dengan negaraku sendiri," ujar Mossamet.
Dalam sesi wawancaranya dengan orang-orang yang ditemui oleh Bennington, ia juga sempat menanyakan soal pemilihan presiden kali ini. Beberapa pemuda dan pemudi berharap Hillary akan menang sehingga mereka tidak perlu khawatir mengenai Islamophobia di Amerika.
Setelah hasilnya keluar dari Trump terpilih menjadi orang nomor 1 di negeri Paman Sam itu, banyak dari mereka yang mengatakan kekecewaannya. "Tidak hanya kecewa tapi takut dampak Trump jadi presiden," cerita Bennington mewakili suara para pemuda yang diwawancaranya.
Foto: Mark Bennington |
Abdelrazaq yang merupakan mahasiswa kedokteran gigi dari NYU menuturkan bahwa komunitas muslim harus terus bersuara termasuk ikut andil dalam politik. "Saya berpendapat bahwa komunitas muslim seperti komunitas minoritas yang harus muncul dan menunjukkan suaranya. Tidak dengan harapan menjadi pemenang tapi untuk menunjukkan bahwa kita ada. Kita adalah bagian dari negara ini, bagian dari komunitas ini. Hei, kita di sini. Kita peduli dan Anda tidak dapat meningkatkan karier politik dengan memberantas masyarakat seperti kami karena Anda tidak akan berhasil," kata pria berusia 25 tahun itu.
Lain halnya dengan mahasiswi Amerika yang ditemui Bennington bernama Ariba. Wanita 24 tahun yang mengambil gelar master Kesehatan Umum di Hunter College itu bercerita mengenai pengalaman tak terlupakannya.
"Saya ingat pertamakali itu terjadi waktu aku naik subway ke Hunter College. Awalnya dia memberikanku duduk tapi kemudian dia bertanya 'Siapa yang mengundangmu?' (Aku warga Amerika!) Aku tidak mengerti dan sangat terkejut. Aku tidak bisa berkata apa-apa dan itu membuatku teringat selama berbulan-bulan," kisahnya.
Foto: Mark Bennington |
Ungkapan lain dituturkan oleh seorang pria yang dipotret sekaligus diwawancara Bennington. Pria tersebut mengaku kalau ia muslim dan mendukung Trump. Dia adalah Hany, seorang General Manager Hany, 27, General Manager di Cairo Dental, Queens, Amerika Serikat. Pria 27 tahun itu memiliki pemikiran tersendiri terhadap sosok sang presiden.
"Sejujurnya aku memilih Trump. Aku suka dengan sosoknya. Aku suka semangatnya untuk mengubah negara karena memang Amerika butuh banyak perubahan. Jika aku jadi dia, aku akan membiarkan imigran tapi melacak siapa saja imigran yang tidak membayar pajak. Percayalah selalu ada keajaiban!" ujarnya.
Memang terpilihnya Trump menjadi presiden banyak yang khawatir akan tersingkirnya masyarakat muslim di Amerika. Makinoon, murid laki-laki berusia 17 tahun justru mengajak masyarakat berpikir positif dan tidak terlalu membebankan Islamophobia.
"Terkadang kamu merasa takut dengan Islamophobia. Ada suatu masa ketika saya berpikir tidak mengikuti iman saya karena tekanan sosial. Tapi identitas saya muslim dan saya harus menunjukkan bahwa Islam itu tidak buruk, Islam adalah agama yang indah," komentar Makinoon.
Kemudian ada quotes bijak dari seorang mahasiswa berusia 18 tahun bernama Sadaf. Ia juga merupakan CEO dari media REV 21.
Foto: Mark Bennington |
"Kita tidak bisa mengharapkan perubahan kecuali kita secara langsung terlibat untuk membuat hal itu terjadi. Ketika Anda kehilangan kesempatan untuk berbagi suara Anda, Anda harus teriak lebih keras. Bukan hanya berteriak lebih keras untuk diri sendiri tapi juga orang lain yang sependapat dengan Anda. Saya berdoa suatu hari saya bisa mencapai tujuan saya dan media saya bisa menjadi sarana untuk menciptakan nilai-nilai dalam Amerika sesungguhnya," papar Sadaf. (aln/rou)
Foto: Mark Bennington
Foto: Mark Bennington
Foto: Mark Bennington
Foto: Mark Bennington