Rumah Pintar, Orang Indonesia Memang Butuh?

Rumah Pintar, Orang Indonesia Memang Butuh?

Ardhi Suryadhi - detikInet
Senin, 31 Okt 2016 09:39 WIB
Direktur Corporate Marketing Samsung Indonesia Jo Semidang. (Foto: detikINET/Ardhi Suryadhi)
Jakarta - Sejak meledaknya era digital, berbagai hal mendadak jadi 'pintar'. Sebut saja smartphone, smartwatch, smart city, sampai smart home. Nah, khusus rumah pintar, apa orang Indonesia sudah membutuhkan?

Pertanyaan ini sejatinya juga hilir mudik di benak para petinggi Samsung Electronics Indonesia (SEIN). Sampai akhirnya mereka datang pada kesimpulan, iya butuh namun dengan sejumlah catatan.

Menurut Jo Semidang, Corporate Marketing Director Samsung Electronics Indonesia, catatan yang dimaksud salah satunya adalah jangan membuat adopsi smart home jadi terlihat menyusahkan.

"Misalnya harus bongkar rumah atau narik kabel yang ribet dulu, ah itu bakal susah," ujarnya saat berbincang dengan sejumlah media di Hotel Kempinsky, Jakarta.

Catatan berikutnya adalah harus bisa menjawab, 'kenapa rumah saya harus dijadikan pintar?'. Untuk hal ini Samsung coba kembali lagi ke kebutuhan dasar rumah tangga, yakni soal efisiensi energi dan biaya serta keamanan.

"Jadi kalau misalnya kita keluar rumah lupa matiin lampu dan AC, itu kan sudah pemborosan. Terus dari PLN kan juga menghimbau barang yang stand by pun dicopot karena mengkonsumsi listrik," ungkap Jo.

"Rumah pintar ini membuat hal itu jadi gampang dan bisa dipantau. Dan setiap perangkat bisa dipantau berapa konsumsi listriknya, jadi paling dasar itu energi efisiensi serta penghematan biaya," lanjutnya.

Samsung memang tak bisa memberi kepastian bakal seberapa besar penghematan biaya yang bisa terealisasi ketika mengadopsi solusi smarthome ini. Sebab hasilnya bisa bervariasi tergantung pemakaian user, namun diperkirakan di angka 10-20%.

"Jadi kalau kita bisa masuk dan membuktikan cost saving, tapi dengan running cost lebih murah, itu kan bakal lebih mudah masuk ke user," Jo menegaskan.

Rumah Pintar, Orang Indonesia Memang Butuh?Foto: Samsung


Selanjutnya adalah soal keamanan. Kebutuhan ini didasari karena rumah bisa dimonitor dari luar. Terlebih ketika kedua orangtua sibuk, tetapi juga tetap ingin memantau aktivitas dan kondisi anak di rumah.

"Samsung dengan Smart Things-nya ada solusi untuk itu. Sangat sederhana. yang penting kita instal hub dulu, kotak kecil, tinggal colokin ke internet nanti masing-masing sensor tinggal dihubungkan ke hub. Sangat mudah, kita tinggal mengontrol rumah dengan mudah," kata Jo.

Dalam kesempatan itu, Jo juga melakukan demo solusi rumah pintar ala Samsung. Dimana pada ruangan tersebut sudah tersedia robot penghisap debu yang dioperasikan lewat tablet PC serta terpasang lampu yang bisa dikendalikan secara jarak jauh lewat tablet PC.

Rumah Pintar, Orang Indonesia Memang Butuh?Foto: detikINET/Ardhi Suryadhi


Bohlam yang digunakan bukan bohlam biasa, namun yang sudah masuk kategori smart device bermerek Osram. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa sistem smarthome yang dikembangkan Samsung bersifat open platform alias terbuka untuk berbagai vendor lain.

Adapun peran Samsung lebih kepada menyediakan solusi smart home yang dijalankan via hub, server dan aplikasi Smart Things. Hub ini akan bicara dengan server yang telah menyimpan aturan.

Aturan yang dimaksudnya misalkan bisa dikondisikan ketika ponsel user terhubung WiFi rumah maka bisa langsung diperintah untuk menyalakan lampu. Jadi hub seperti access point WiFi, ketika ada perangkat baru yang mendekat bisa langsung pairing. Bukan lewat koneksi WiFi, tetapi ada protokol baru untuk smart device.

"Jadi ini open platform. Semua hardware-nya bukan bikinan samsung, seperti bohlam ini bikinan Osram. Harga bohlamnya sekitar USD 14, jadi gak super mahal. Ketika bohlam ini terpasang langsung terkoneksi. Ini kan baru satu, jika di rumah kita ada banyak itu bisa diotomatiskan. Jadi misalnya, saat pagi hari, lampu taman bisa langsung mati. Atau ketika saya keluar lampu bisa diotomatiskan mati. Dan bisa ditambahkan macam-macam, seperti sensor gerak, CCTV atau kunci pintu," jelas Jo yang hobi bersepeda dari rumah ke kantor ini.

Mahal Gak?

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, seberapa besar investasi user jika ingin rumahnya dibikin pintar? Untuk hal ini Jo belum bisa memberi kepastian. Pasalnya, Samsung juga baru mau masuk pasar smart home Indonesia pada tahun 2017 mendatang.

Namun sebagai gambaran, paket awal solusi smart home dijual di angka USD 250 di Amerika Serikat. Dalam starter pack tersebut user bakal mendapatkan hub, sensor gerak, dan sensor pintu.

Rumah Pintar, Orang Indonesia Memang Butuh?Foto: detikINET/Ardhi Suryadhi


"Jadi gak mahal-mahal banget. Dan yang mau ditawarkan di Indonesia pun solusinya kurang lebih bakal sama, paling cepat tahun 2017," ungkap Jo.

Samsung sendiri saat ini tengah menjajaki dengan pemain di bisnis properti sebagai akses masuk solusi smart home. Hal ini dianggap sebagai cara terbaik sekaligus untuk memastikan ketersediaan infrastruktur internet di setiap rumah yang mengimplementasikan solusi tersebut.

Pasalnya, infrastruktur internet yang mumpuni jadi salah satu tantangan terbesar untuk mengadopsi solusi rumah pintar di Indonesia. Termasuk juga soal stabilitas listrik.

Hal ini pula yang menjadi PR Samsung, dimana harus bisa memastikan solusi smart home adalannya bisa berjalan lancar dengan kondisi internet yang (mungkin) tidak secepat negara maju yang telah lebih dulu mengimplementasikan rumah pintar.

(ash/fyk)