Demi 1.000 Startup Digital, Caroline Cuti dari Kuliah di Prancis

Demi 1.000 Startup Digital, Caroline Cuti dari Kuliah di Prancis

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 14 Sep 2016 13:35 WIB
Caroline Rumiris Samosir (dok. Lab Kinetic)
Jakarta - Caroline Rumiris Samosir sedang berburu beasiswa di berbagai Kementerian. Saat membuka website Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), dia menemukan informasi yang lebih menarik daripada beasiswa yang dicarinya, Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital.

"Saya merasa cocok dengan apa yang sedang saya kerjakan sebagai tesis. Akhirnya saya daftar meski mepet. Bikin video H-2 seadanya," kenang Olin, sapaan akrabnya, mengingat awal dirinya kecebur di gerakan ini.

Keputusannya mengikuti Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital, diakui Olin karena dirinya merasa yakin bisa terbantu merealisasikan ide startup-nya untuk diterapkan di Indonesia. Dijelaskan Olin, startup-nya tersebut sebenarnya merupakan tesis yang sudah dikerjakannya sejak 2015.

"Idenya sudah ada sejak kuliah semester 1 di Paris. Tesis yang sedang dikerjakan sama dengan konsep yang saya ajukan ke 1.000 Startup Digital. Bedanya, tesis ini tidak direalisasikan, hanya membuat maket atau prototype. Konsep awalnya juga untuk diterapkan di Prancis, berbahasa Prancis. Kalau ini akan dibuat untuk market Indonesia," jelasnya panjang lebar.

Cita-cita Kurangi Pengangguran

Dari sekian banyak konsep kreatif yang masuk ke Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital, ide yang diajukan Olin adalah salah satu yang menarik. Ajarin, demikian nama startupnya, bertujuan mengurangi pengangguran.

Sesuai namanya, Ajarin memungkinkan siapa saja saling mengajari keahlian tertentu. Olin yakin dengan cara ini, sebuah keahlian bisa ditularkan ke lebih banyak orang dan menciptakan perputaran pekerjaan.

"Kalau kita ngajarin orang udah pasti kita lebih pinter, orang yang diajarin makin pinter, dan akan terus ngajarin orang lain lagi," yakinnya.

Menurut gadis kelahiran 30 Oktober 1992 ini, dengan mengajar, orang bisa mempunyai pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan dan membiayai hidup.

"Misalnya saya bisa main piano tapi gak pernah punya sertifikasi piano karena otodidak. Tapi saya bisa ajarkan untuk anak TK, SD. Kalau mereka ikut les privat kan harus bayar mahal," paparnya memberi contoh.

Olin juga merasa terdorong berbuat sesuatu, melihat banyaknya lulusan S1 dari kampus kenamaan yang sulit mendapat pekerjaan. Di sisi lain, ada banyak orang yang punya pengetahuan dan kemampuan, namun belum bisa memanfaatkannya untuk dijadikan sumber penghasilan.

"Di Indonesia angka pengangguran meningkat. Orang lulus kuliah meningkat tiap tahun. Ada juga yang udah bekerja di kantoran tapi kurang pendapatan, jadi dia bisa nyari tambahan Sabtu Minggu. Startup ini harus segera direalisasikan untuk mengakomodasi situasi ini," tekadnya.

Cuti dari Kuliah di Paris

"Saya bersedia datang ke Jakarta dan ambil cuti kuliah sementara. Ini sesuai dengan tesis saya dan saya juga penasaran bagaimana direalisasikan," kata Olin saat ditanya apa yang akan dilakukannya jika diterima di Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital.

Olin saat ini memang sedang berada di Prancis, menjalani studi S2 di Universite Paris Nord, jurusan Inovasi Komunikasi. Dengan mengikuti Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital, dia bisa membuat ide tesisnya diaplikasikan dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

"Apalagi saya memang kesulitan pendanaan untuk merealisasikannya. Ini kesempatan. Kampus akan mendukung karena juga sesuai dengan tesis saya. Hitungannya saya kaya tetap 'kuliah' tapi di Jakarta," sebutnya.

Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital menurutnya tak hanya bisa menciptakan solusi bagi permasalahan yang ada di Indonesia, tapi punya potensi lebih besar lagi.

Menurutnya, sebuah startup bisa membantu devisa negara, terutama jika ada yang mengembangkan untuk bidang pariwisata. Startup juga bisa jadi ajang promosi ke luar negeri, misalnya seperti Uber. Olin berharap dari gerakan ini, akan muncul startup dari Indonesia yang mendunia.

"Semoga yang jadi 1.000 startup dipilih bener-bener dan yang paling dibutuhkan Indonesia saat ini. Semoga gak ada yang dobel. Semoga bisa bantu Indonesia," harapnya. (rns/ash)