"Ya, memang benar banyak startup di Indonesia membidik e-commerce," komentar Chief Strategy Officer Lazada Magnus Ekbom saat berbicara di acara Indonesian-Sweden Digital Forum 2016.
Sederhana saja, e-commerce menurutnya menjadi jalan pertama bagaimana konsumen masuk ke layanan online. Di banyak negara, e-commerce adalah hal sederhana yang sudah melekat dalam keseharian penggunanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"E-commerce adalah awal, langkah pertama membawa konsumen ke ranah online. Setelah itu, mereka tak hanya membeli barang, tetapi juga menggunakan jasa, membeli konten dari platform online," kata pria asal Swedia ini.
Dia mencontohkan aplikasi WeChat. Platform ini sejatinya digunakan orang untuk berkomunikasi. Namun pada perkembangannya, di WeChat, pengguna bisa menemukan apa pun. Mereka bisa membeli musik, membeli kebutuhan sehari-hari, sampai pesan tiket.
"Jadi saya pikir setiap negara punya aplikasi spesifik yang populer di kalangan konsumen. Bukan soal layanan tertentu lebih mendominasi di Indonesia. Intinya, e-commerce hanya salah satu fase pertama beralih ke platform online," terangnya.
Namun demikian, Magnus menyarankan agar startup mengeksplorasi banyak ide. Indonesia punya potensi besar di mana transformasi bisa masuk dan menjadi solusi yang dipakai banyak orang, mulai dari transportasi, pertanian, kedokteran, sampai kesehatan.
"Cobalah sesuatu yang berbeda, ide baru, coba untuk menemukan angle baru, sehingga Anda terlihat 'segar' pada fase dikenal konsumen. Ada banyak aplikasi bisnis yang sangat relevan dan bisa menggebrak," sarannya. (rns/ash)