Menurut sumber yang menolak disebutkan namanya, perusahaan yang berpusat di San Francisco, Amerika Serikat ini merencanakan untuk segera bisa menerapkannya agar bisa menambah kenyamanan pengguna platformnya.
"Tool ini pada intinya jadi semacam moderator untuk konten apapun. Contohnya, pengguna juga bisa memblokir hashtag mengenai acara yang mereka tidak ingin lihat," kata sumber tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keterbukaan platform Twitter memang bagai dua sisi mata uang. Siapa pun bisa bebas mengatakan apa saja secara terbuka kepada orang lain. Di sisi lain, banyak yang menjadi korban bully di Twitter.
Orang biasa sampai selebritis dan tokoh terkenal bisa saja mengalaminya. Serangan terhadap mereka bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari komentar SARA sampai seksisme.
Belum diketahui kapan Twitter akan menerapkan tool tersebut. Twitter sendiri belum bersedia mengonfirmasi atau memberikan komentar mengenai laporan ini. (rns/ash)