Rabu, 27 Jul 2016 19:09 WIB

Sensor IoT Mudahkan Menanam Timun Jepang

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: detikINET/Rachmatunnisa Foto: detikINET/Rachmatunnisa
Jakarta - Asep Bagja Priandana dan Retno Ika Safitri sudah cukup lama menekuni dunia pertanian. Pasangan suami istri ini terpikir untuk memudahkan produksi kyuri atau timun Jepang yang mereka tanam dengan memanfaatkan sejumlah sensor.

Dalam kompetisi Indonesia IoT Challenge yang digelar Doku dan DyCodeEdu, Asep dan istrinya yang mendirikan startup pertanian bernama TaniBox, memboyong proyek Kyuri Planter ke hadapan para juri.

Kyuri Planter adalah alat penanam sayuran tanpa tanah (hidroponik) yang cocok digunakan untuk menanam sayuran yang memiliki buah seperti kyuri, terong, cabe, melon dan lain-lain.

"TaniBox ini startup sudah dari 2015 bergerak dalam bidang pertanian. Baru tahun ini kita masuk ke IoT. Sisi IoT-nya sendiri kita pakai sensor. Mendeteksi kelembaban tanah dan mengetahui kondisi ideal tanaman," kata Asep di kantor Doku, Plaza Asia, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (27/7/2016).

Dipaparkan Asep, alat ini menggunakan teknik drip irrigation system di mana air diteteskan langsung ke akar tanaman. Di planter ini, TaniBox menambahkan sensor suhu dan kelembapan untuk memantau suhu ideal di sekitar tanaman, untuk memastikan apakah kipas pendingin dan humidifier untuk menambah jumlah uap air di udara perlu dinyalakan atau tidak untuk menjaga suhu tetap optimal. Dengan demikian, hasil panen terbaik bisa didapat.

Terintegrasi dengan sistem pembayaran digital Doku, Kyuri Planter dilengkapi tombol pembelian cepat, untuk memesan benih dan nutrisi tanaman yang sebelumnya sudah didefinisikan terlebih dahulu di web dashboard.

"Jadi ketika terdeteksi persediaan habis, kami ada satu tombol untuk memesan ke merchant yang sudah bekerjasama dengan Doku. Begitu kita tekan tombol otomatis tersambung ke pembelian online dan dibayar dengan akun Doku. Bisa membeli bibit, pupuk cair, dan lain-lain," terang Asep.

Sistem yang masih prototype ini dikatakan Asep sudah hampir siap. Tinggal melakukan sejumlah pengembangan dan persiapan integrasi dengan layanan Doku untuk bisa diterapkan. Dari segi teknis, Asep mengaku tidak mengalami kendala.

"Secara teknis bisa diatasi. Masalahnya hanya masih sulit untuk produksi massal karena sangat besar kapasitasnya. Ini masih yang kecil-kecil aja," sebutnya.

Sebagai juara ketiga kompetisi Indonesia IoT Challenge, tim Tanibox diberi hadiah Rp 7.500.000, mendapatkan mentoring untuk memonetisasi aplikasi dan dukungan integrasi dengan layanan Doku.


(rns/ash)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed