Sang CEO Mark Zuckerberg pun sangat gembira. Ia membeberkan teknologi di balik Aquila, drone yang rencananya digunakan untuk memancarkan koneksi internet di wilayah-wilayah terpencil di berbagai belahan dunia.
"Misi asli kami adalah menerbangkan Aquila selama 30 menit, tapi semuanya berjalan sangat baik sehingga kami memutuskan menerbangkannya sampai 96 menit," tulis Zuck di akun Facebook resminya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aquila memiliki bentang sayap lebih lebar dari Boeing 737, namun beratnya harus ringan untuk tetap mengudara selama mungkin. Itu sebabnya bodi drone tersebut terbuat dari karbon fiber sehingga beratnya hanya setara grand piano. Facebook akan terus berupaya membuatnya lebih ringan.
![]() |
"Jumlah energi yang dikumpulkan Aquila dari matahari di siang hari harus cukup untuk membuat sistemnya berjalan saat gelap. Aquila sebagian besar beroperasi mandiri, namun masih bergantung pada kru di bawah yang terdiri dari sekitar selusin engineers, pilot dan teknisi yang menjaga dan mengawasi pesawat itu," papar Zuck.
Kontrol drone dilakukan melalui software, dari ketinggian sampai arah yang ditentukan dengan GPS. Sedangkan lepas landas dan pendaratan dilalukan secara otomatis.
![]() |
"Ketika Anda melihat Aquila terbang, salah satu hal paling mengejutkan adalah betapa lambatnya dia. Itu memang disengaja. Dalam rangka memakai sesedikit mungkin energi, Aquila harus terbang selambat mungkin," tulis Zuck lagi.
Hampir separuh berat Aquila berasal dari baterai energi tinggi. Aquila juga akan membawa perangkat komunikasi untuk mentransfer data.
"Tahun depan kami akan terus menguji Aquila, terbang lebih tinggi dan lebih lama, menambahkan lebih banyak pesawat dan barang bawaaannya. Itu semua adalah bagian dari misi kami menghubungkan dunia dan membantu 4 miliar orang yang belum online," pungkas Zuck.
(fyk/ash)

