Tinggalkan Gaji Gede di AS, Kevin Pilih Urus Ojek

Tinggalkan Gaji Gede di AS, Kevin Pilih Urus Ojek

Adi Fida Rahman - detikInet
Rabu, 02 Mar 2016 19:00 WIB
Co-Founder & CFO Go-Jek Kevin Aluwi. Foto: afr/detikINET
Jakarta -

Banyak yang bertahan di negeri orang untuk bekerja usai menyelesaikan pendidikan tingginya. Tapi tidak sedikit pula yang memilih pulang ke Indonesia, salah satu di antaranya Kevin Aluwi, Co-Founder sekaligus Chief Financial Office (CFO) Go-Jek.

Pada 2011, selepas menamatkan pendidikannya di University of Southern California dan berkarier 1,5 tahun di sebuah perusahaan di Negeri Paman Sam, Kevin kembali ke sini. Ia mengaku ingin mengabdikan diri pada industri teknologi di Indonesia.

Keputusan tersebut bukan tidak mendapat penentangan. Beberapa orang terdekatnya menyarankan ia untuk tetap tinggal di Amerika Serikat mengingat kariernya akan lebih cemerlang serta mendapat pundi-pundi dolar yang tidak sedikit. Tapi kata dia, kecintaan atas negeri ini mengalahkan godaan tersebut.

"Agak klise sih, tapi Indonesia itu kampung halaman gue. Keluarga dan teman gue disini. Gue merasa ini rumah gue," tutur Kevin.

Rupanya, pria berkacamata ini menilai Indonesia menyimpan potensi yang besar untuknya. Apalagi kala itu industri teknologi di Tanah Air baru akan bergeliat.

"Gue yakin 2011 tepat untuk kembali, karena saya bisa menikmati perkembangan Indonesia sekaligus berkontribusi di dalamnya. Kondisi ini akan berbeda bila kembali di 2016 atau 2020, kasarnya sudah ketinggalan kereta," ungkap pria kelahiran Jakarta, 1 September 1986 ini.

Ia lantas mencontohkan negara China, banyak orang yang kembali ke negara tersebut sebelum Negeri Panda itu dikenal sebagai pusat ekonomi digital dunia. Hasilnya banyak perusahaan yang dirintis kala itu menjadi besar, satu di antaranya adalah Alibaba.

Dan memang keputusan kembali ke Indonesia terbukti tepat. Dalam waktu relatif singkat ia merengkuh keberhasilan di industri teknologi Indonesia. Di usianya yang masih 29 tahun, namanya sudah tercatat dalam daftar orang bergengsi di Forbes.

Kiprah Kevin di Indonesia dimulai dengan bergabung di Merah Putih. Anak usaha Djarum ini bergerak di inkubator startup. Alumni Jakarta International School itu memang sengaja terjun ke dunia teknologi karena merasa passion-nya berada di sana.

"Mungkin karena dulu suka main game. Tapi memang gue tertarik dengan inovasi berbasis teknologi. Lihat saja banyak perusahaan yang mengubah kehidupan kita itu berbasis teknologi," ucapnya.

Selepas di Merah Putih, ia pun bergabung di Zalora. Kevin menjadi orang kedua yang direkrut perusahaan di bawah naungan Rocket Internet itu. Orang pertama adalah Nadiem Makarim.

Dari sinilah keakraban Kevin dan Nadiem Makarim terjalin. Meski keduanya sebenarnya sudah menjadi teman main sejak lama. Nadiem kerap mengajak pria yang doyan bermain Dota ini berdiskusi soal Go-Jek yang saat itu tidak terlalu diurus.

"Selain karena kesibukan Nadiem sendiri, market pada saat itu masih belum siap. Penetrasi smartphone masih kurang karena masih mahal. Ditambah lagi pengguna internet masih rendah. Ini membuat kondisi Go-Jek stagnan," tuturnya.

Dari serangkaian diskusi itu, keduanya akhirnya memutuskan untuk mengarap Go-Jek lebih serius. Pada 2014, Nadiem dan Kevin terjun langsung membesarkan Go-Jek.

Usaha keras mereka terbayar, Go-Jek tenar dalam waktu cukup singkat. Namun demikian, kata Kevin, kesuksesan tersebut tidak datang dengan mudah. Begitu banyak masalah yang harus mereka hadapi.

"Di awal membangun Go-Jek, banyak pihak yang ragu. Cari orang saja susah. Mau partnership dengan perusahaan ternama ditolak. Belum lagi pertanyaan dari orang-orang dekat yang menganggap bisnis ini kurang prospeknya," kenang Kevin.

Namun setelah aplikasi Go-Jek meluncur dan mulai banyak driver yang terlihat di jalanan, semua keraguan tersebut mulai gugur. Semula hingga akhir 2015, mereka menargetkan 4.000 driver. Nyatanya, malah tembus jadi 200 ribu driver.

Tapi menurut pria berkacamata ini, terlalu cepatnya perkembangan Go-Jek menghadirkan berbagai masalah baru yang kadang memusingkan kepala. Untungnya dengan kesolidan tim, semua masalah yang timbul malah membuat Go-Jek terpacu untuk makin baik lagi.

Kini Go-Jek telah cukup berhasil, tapi Kevin tetap punya ambisi besar pada 'anaknya' ini. Selain terus meningkatkan layanan, dia berharap Go-Jek yang telah mendarah daging di Jakarta itu dapat tersedia di seluruh kota besar Indonesia.

(afr/fyk)