Pos Indonesia (Posindo) sebenarnya punya peran penting dalam mata rantai industri e-commerce di Tanah Air. Namun sayangnya, untuk menuju ke sana tidaklah mudah. Seperti membangunkan raksasa yang telah tertidur lama.
Itu sebabnya, untuk mengejar ketertinggalannya, Posindo mengaku tak bisa sendirian. BUMN urusan logistik ini ini membutuhkan bantuan, khususnya dari sesama BUMN lainnya. Maka digandenglah Telkom untuk dukungan teknologi informasi komunikasi (ICT).
Kedua badan usaha milik negara itu pun langsung mengikat diri dengan menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang diwakili oleh Direktur Enterprise & Business Service Telkom, Muhammad Awaluddin, dan Direktur Utama Pos Indonesia, Gilarsi W Setijono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menjadikan Pos Indonesia sebagai perusahaan logistik yang menjadi 'top of mind' di mata pelanggan. Awaluddin menjelaskan Telkom akan menyediakan platform dashboard aplikasi (B2B2C approach) dan sistem otomasi (M2M approach).
"Untuk pengembangan di tahun 2016, Telkom dan Pos Indonesia juga sudah punya rencana. Pada tahap awal akan bekerjasama dalam pengembangan Infrastruktur Data Center, Disaster Recovery Center, e-Payment untuk mendukung pengembangan Bisnis Jasa Keuangan, Retail, e-Commerce termasuk bisnis logistik dengan cara yang lebih efisien," papar Awaluddin, Kamis (31/12/2015).
Selain itu, saat ini Telkom bekerjasama dengan Pos Logistik, anak perusahaan Posindo, untuk mengembangkan aplikasi pendukung bisnis inti logistik yang mencakup data warehouse, aplikasi transportasi, aplikasi finance yang hal ini dapat dikembangkan untuk proses bisnis logistik di Pos Indonesia.
Sementara menurut Gilarsi, Posindo adalah sebuah perusahaan besar atau raksasa yang sedang tertidur panjang. Sehingga memerlukan tenaga ekstra untuk membangunkannya.
"Posindo mempunyai keunggulan dalam bidang kemapanan jaringan hingga ke pelosok. Ini yang menjadi keunggulan yang tidak dimiliki perusahaan lain. Perusahaan yang memiliki kantor hingga ke pelosok desa terpencil hanya Pos Indonesia," kata dia.
Sayangnya, keunggulan itu tidak dimanfaatkan dengan baik oleh Pos Indonesia. Itu sebabnya, menurut Gilarsi, sikap yang benar adalah membangunkan dan menyadarkannya atas potensi yang dimiliki.
βSaat ini kita sedang menyadarkan Posindo atas kondisi bisnis yang berkembang sekarang. Dewasa ini, landscape kompetisi sudah berubah. Berkat teknologi, masyarakat mengubah pola surat-menyurat ke bentuk elektronik atau e-mail.
"Surat konvensional kini dianggap sebagai snail mail lantaran geraknya lamban bak siput. Untuk itu perlu ada pendefinisian ulang bisnis inti Pos Indonesia, sehingga mampu bergerak seirama dengan landscape ekonomi atau konteks bisnis dewasa ini," paparnya.
Gilarsi menambahkan, dilihat dari model bisnis sebenarnya mudah karena bisnis inti Posindo utamanya adalah logistik. Apakah surat atau parsel yang dikirim, konteks bisnisnya tetap logistik, yang membedakan dari segi ukuran. Kalau surat, berarti logistik kelas ringan. Jika yang dikirim kontainer, termasuk logistik kelas berat.
"Dengan peluang logistik yang luas ini Posindo keluar dari bisnis konvensional, seperti pengiriman surat, parsel, dan barang lain ke skala yang lebih besar. Posindo yang sudah siap secara infrastruktur di daerah pelosok diharapkan mampu menjawab tantangan distribusi ini," pungkasnya. (rou/fyk)