Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Situs e-Commerce Kok Rela 'Berdarah-darah'?

Situs e-Commerce Kok Rela 'Berdarah-darah'?


Ardhi Suryadhi - detikInet

Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini. (fathir/detikfoto)
Jakarta -

Banting harga masih jadi amunisi andalan situs e-commerce untuk menarik pelanggan. Namun siapa sih yang mau terus-terusan mengeluarkan modal sampai 'berdarah-darah'?

Jika ditanya demikian, pasti jawabannya tak ada yang mau! Termasuk situs e-commerce yang sudah punya hitung-hitungan terkait aliran dana segar yang dikucurkannya tak akan lenyap begitu saja.

Menurut Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini, pamor situs e-commerce saat ini masih sangat dipengaruhi oleh pancingan harga murah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mirip dengan industri telekomunikasi di awal-awal, dimana yang dicari hanya harga. Tetapi kalau sekarang sudah lebih dilihat kecepatan dan lain-lain," kata Dian saat berbincang dengan beberapa media di Jakarta.

Seperti halnya bisnis seluler, Dian pun meyakini bahwa perang harga murah tak akan terus-terusan jadi amunisi utama di bisnis e-commerce. Diperkirakannya masih sekitar 3-4 tahun lagi.

"Memang bisnis perusahaan internet (seperti e-commerce) agak lama untuk mendapatkan uang. Ini juga kenapa banyak perusahaan telekomunikasi gak masuk ke digital services karena matriksnya sangat berbeda dengan telko," papar Dian.

Sebab jika di bisnis telekomunikasi dari awal selalu bicara soal revenue, tetapi kalau bisnis internet di awal itu bicaranya mengenai visitor dan trafik, bukan revenue.

Sementara Direktur Digital Service XL Axiata Ongki Kurniawan menambahkan, bisnis e-commerce meski sekilas mirip bisnis seluler di awal lahirnya yang selalu perang harga, pada kenyataannya punya gaya berbeda.

Termasuk jika dilihat situs e-commerce selalu punya pengeluaran dan trafik besar tapi di sisi lain masih belum untung.

"Jadi kita gak bisa lagi bilang masalah profitable atau belum, tapi valuasi. Saya gak perlu bilang (Elevenia berapa valuasinya sekarang), tapi growing-nya sangat cepat. Tapi secepatnya harus dicari cara yang berbeda, soalnya kalau terus berputar-putar di perang harga gak ada habisnya, itu seperti lingkaran setan," tegas Ongki.

Elevenia sendiri selama periode Januari-Oktober 2015 sudah menembus transaksi Rp 1 triliun, diramaikan 25.000 penjual, serta 2,3 juta produk yang dijajakan. Namun seperti yang disebutkan di atas, Elevania ataupun rata-rata e-commerce lain masih belum mencatatkan profit. Hanya saja di sisi lain valuasi mereka terus naik.

"Mobile apps itu sekarang jadi fokus buat Elevenia, bulan ini sudah selesai untuk data matriks. Kita juga melihat ada isu besar yakni soal logistik dan payment," Ongki menandaskan.

(ash/ash)







Hide Ads