Sebagai pemain baru di layanan ojek digital, Blu-Jek ternyata punya jurus khusus untuk 'menaklukkan' resistensi dari tukang ojek pangkalan. Apa itu?
'Menaklukkan' di sini tentunya bukan dengan cara represif, melainkan membuat tim khusus untuk mengajak langsung tukang ojek pangkalan untuk bergabung dengan Blu-Jek.
Tim khusus ini merupakan bagian dari divisi rekrutmen Blu-Jek yang bakal terjun langsung ke pangkalan-pangkalan ojek. Tujuannya tak cuma untuk merekrut armada, namun juga untuk menjalin komunikasi agar tak ada saling tuduh ataupun resistensi ke depannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, untuk urusan rekrutmen juga, Blu-Jek juga bakal memprioritaskan ojek pangkalan. "Karena fokus kita juga ada misi sosial, untuk membantu warga kelas menengah ke bawah. Jadi kita juga ingin manage anggota yang dari dulunya sudah menjadi tukang ojek," lanjut Blu-Jek.
"Ada tim khusus yang akan turun untuk kasih informasi secara jelas, tapi tak menutup kemungkinan juga untuk merekrut orang umum," lanjutnya.
Dari cara itulah, diharapkan Blu-Jek dapat menghindari gesekan dengan ojek pangkalan. Ketimbang saling tarik urat lebih baik digandeng untuk mencari rezeki bersama-sama.
Blu-Jek sendiri baru diluncurkan tanggal 17 September kemarin. Blu-Jek berasal dari kata 'blusukan' dan 'ojek'. Ini adalah perusahaan lokal yang didirikan oleh Michael Manuhutu dan Garrett Kartono. Jika Go-Jek dan Grab Bike punya atribut mirip yang berwarna hijau, Blu-Jek memilih warna biru sebagai corak 'kebangsaannya'.
Layanan pemesanan ojek berbasis aplikasi ini tak ada bedanya dengan Go-Jek dan Grab Bike. Pengguna harus mengunduh aplikasi Blu-Jek dahulu untuk kemudian memilih layanan apa yang diinginkan: jasa transportasi, kurir (Blu-Pick), atau belanja (Blu-Shop) serta memesan makanan (Blu-Menu).
Blu-Jek akan beroperasi di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi dengan penentuan tarif Rp 20 ribu untuk 5 kilometer pertama dan tambahan Rp 4 ribu untuk kilometer berikutnya.Β
(ash/fyk)