Awalnya, detikINET menganggap jika Anterin-dong tampil seperti layanan tukang ojek digital Go-Jek yang kini tengah booming itu. Namun ternyata berbeda.
Anissa Pradani, pendiri dan CMO Anterin-dong.com menjelaskan, layanan yang dibuatnya bersama sang rekan yang bernama Putri itu merupakan hasil dari didikan komunitas Start Surabaya.
"Latar belakangnya kita melihat banyak yang butuh jasa pengiriman barang dari tumbuhnya era belanja online. Jadi awalnya kita berpikir bagaimana kita tak cuma menawarkan jasa pengiriman barang, tetapi juga bagaimana mengumpulkan barang serta membantu mempromosikannya. Makanya kita bikin portal anterin-dong.com, gak cuma anter barang," jelasnya kepada detikINET di sela d'Preneur Spesial Surabaya di Dyandra Convention Center, Surabaya, Minggu (14/6/2016).
Annisa menolak jika layanan Anterin-dong mirip Go-Jek. "Beda segmentasi," tegasnya. Ia menuturkan, kalau layanan barang dari Go-Jek itu mereka mengambil barang untuk kemudian dikirimkan saat itu juga. Tetapi kalau Anterin-dong, bisa dikirimkan beberapa hari kemudian sesuai keinginan pelanggan.
Lantas mirip ekspedisi mainstream dong, seperti JNE misalnya? "JNE kan lebih ke offline, harus datang ke counter. Kalau ini tinggal telpon, langsung kita anterin atau nantinya akan kita kembangkan via web dan aplikasi," elaknya.
Urusan promosi kepada UKM juga bakal dilakukan lewat layanan dua mahasiswi asal Surabaya ini. Di webnya nanti ada bagian e-commerce yang bila diklik bakal berisi deretan daftar toko online yang ada di Kota Pahlawan. Bisa langsung memesan juga dan langsung kita kirimkan.
Saat ini, layanan Anterin-dong sudah berjalan di Surabaya, tetapi masih by phone. Baru dua bulan berjalan, Anissa dan Putri sukses mengumpulkan omset Rp 1 juta. Untuk saat ini tarifnya masih disesuaikan berdasarkan titik lokasi, belum ada argometer. Tiap 20 km kita patok Rp 22 ribu," ungkap Anissa.
Adapun armada pengirimannya diandalkan para mahasiswa yang ingin mencari uang tambahan. Statusnya freelance dan terbuka, namun tetap saja ada proses seleksi untuk menjaga kepercayaan dan mengukur komitmen merea.
Proses pemesanan yang terjadi kemudian bakal dibagi antara Anterin-dong dengan mahasiswa si pengirim barang dengan proporsi 20%:80%. Tentunya porsi lebih besar masuk ke kantong si mahasiswa, jadi ini tentu bisa menjadi lahan pekerjaan bagi mereka yang tengah butuh tambahan dana.
"Kita terbuka untuk para mahasiswa yang mau freelance. Pengembangan Anterin-dong nantinya bakal lewat aplikasi untuk pemesanan sehingga lebih memudahkan," Anissa menandaskan.
(ash/asj)