Mereka punya latar belakang yang berbeda-beda, seperti guru, pengacara, dan ekonom, dan akan tergabung dalam Estonian Defence League, yang merupakan tentara cadangan di negara Baltik tersebut.
Negara dengan penduduk sekitar 1,3 juta orang itu bisa dibilang adalah salah satu negara paling canggih di dunia. Hampir semua transaksi perbankan dilakukan secara online, dan 30% suara dalam pemilu terakhirnya dilakukan secara elektronik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu sejumlah situs milik bank, pemerintahan, serta parlemen dibanjiri oleh jumlah pengakses yang sangat besar hingga down, atau dengan kata lain mereka di-DDOS (distributed denial of service).
Tak pernah ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, namun sejumlah pihak menuding bahwa pelakunya berasal dari negara tetangga Estonia, yaitu Rusia.
Dan inilah yang menjadi alasan Estonia untuk membentuk divisi tentara cyber tersebut. Sehingga ketika dibutuhkan, para tentara sipil itu bisa dimobilisasi untuk 'melindungi' negaranya.
"Hal paling buruk dalam menjadi seorang tentara cyber adalah, kamu tak pernah tahu di mana kamu akan diserang. Kamu harus melindungi setiap pintu dan jendela yang ada," ujar Tanel Tetlov, pria 33 tahun yang secara sukarela menjadi tentara cyber Estonia.
Divisi tentara cyber Estonia ini hanya mempunyai tiga orang anggota permanen, yang dikomandani oleh Andrus Padar. Dan Padar adalah orang yang mengorganisir para relawan, dan juga memonitor bermacam serangan cyber yang terjadi di seluruh dunia.
"Perang cyber sebenarnya tak jauh beda dengan perang nuklir, yaitu ketika sebuah layanan yang sangat penting tak bisa diakses lagi," ujar Padar, seperti yang dikutip detikINET dari The Telegraph, Selasa (28/4/2015).
(asj/ash)