Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad diserang lewat foto mesra hasil editing dengan wanita yang mirip Puteri Indonesia 2014 Elvira Devinamira Wirayanti.
Menurut Ruby Alamsyah, pakar forensik digital, jika ada kemauan dari pihak berwajib, melacak pelaku utama di balik foto palsu tersebut dapat dilakukan dengan mudah.
Ruby menjelaskan, pelacakan tersebut memang butuh proses. Termasuk untuk memastikan bahwa foto yang beredar di internet tersebut asli atau tidak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab untuk foto Ketua KPK yang beredar di internet itu sudah ada penggabungan foto. Jadi secara gamblang pun orang awam sudah bisa menyebut itu merupakan hasil editing. "Karena kolase (penggabungan foto-red.) itu kan proses editing, karena sudah digabung. Jadi gak perlu ahli untuk memastikan itu," Ruby menerangkan.
Namun jika ingin berpikir lebih jauh yakni untuk melacak siapa pelaku utama di balik penyebaran foto tersebut, Ruby menegaskan hal itu bisa dilakukan dengan mudah.
Caranya? Pertama, foto palsu Ketua KPK tersebut diketahui disebarkan pelaku dengan mengirimkannya lewat email yang beralamat di wijayantiandini@yahoo.co.id ke media massa. Nah, dari sini bisa dilacak alamat IP dari pengirim email tersebut.
"Dari situ bisa ketahuan siapa orangnya dan pakai device apa ia mengirimkan file tersebut, dan kita juga bisa dapatkan komputernya beserta original source-nya," lanjut Ruby.
Original source alias sumber original inilah yang dianggap dapat memastikan apakah foto tersebut asli atau hasil manipulasi. Original source sendiri bisa berupa konten, pengirim atau pemilik konten tersebut. Dan Digital forensik pun takkan berhenti sampai di situ, melainkan dapat mengupas lebih dalam lagi.
"Kalau itu palsu bisa dianalisa lagi secara alamiah. Misalnya ternyata hasil penggabungan editing software apa, dikirim pakai device apa, kapan waktunya, sampai akses internet apa yang digunakan pelaku," jelas Ruby.
"Harus sedetail itu karena memang digital forensik dilakukan secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Kalau berdasarkan asumsi dengan melihat foto-foto di internet itu tidak fair. Termasuk kalau melihatnya cuma dari metadata dengan sumber foto di internet, metadata itu bisa diedit. Bisa saja itu foto asli/palsu tapi diputarbalikkan," lanjutnya.
Lantas berapa lama kira-kira pengungkapannya? Ruby tak bisa memberi jaminan. Namun jika original source-nya sudah di tangan, maka ia bisa berani bilang pengungkapan konten tersebut bisa dilakukan dalam waktu 24-48 jam.
"Sangat mudah? Iya. Termasuk untuk penelusuran IP address, ISP kita sudah pintar--pintar kok. Meskipun pelakunya menggunakan proxy untuk mengaburkan asal usulnya. Tapi kembali lagi, ada permintaan dari penegak hukum atau tidak, ini bisa dilacak sampai ke ujungnya asal gigih," Ruby menandaskan.
(ash/fyk)