Tak cuma oleh badan intelijen rahasia, sekelas Departemen Kehakiman pun diketahui melakukan aksi pengintipan data sejumlah pengguna ponsel. Lembaga ini memanfaatkan pesawat untuk mengumpulkan informasi.
Menurut laporan Wall Street Journal yang detikINET kutip, Jumat (14/11/2014), program mata-mata ini dijalankan oleh US Marshall di bawah perintah langsung Departemen Kehakiman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesawat ini terbang dari lima bandara dekat bandara kota besar dan memungkinkan Departemen Kehakiman untuk mengumpulkan informasi tentang pengguna ponsel.
Tidak jelas seberapa sering US Marshall melakukan pengintaian ini. Namun, menurut sumber, aksi ini lumayan sering dilakukan.
Sayangnya tidak ada komentar dari pihak Departemen Kehakiman mengenai aksi mata-mata tersebut.
Menurut Dimitri Mahayana, Chairman Sharing Vision aksi mata-mata yang lebih mengerikan sejatinya bisa dilakukan oleh Amerika Serikat lewat NSA (National Security Agency).
Sebelumnya, NSA dilaporkan pernah memata-matai email Presiden Meksiko. Tentu perlu alat canggih dan akses tak terbatas untuk bisa memonitor orang sekaliber presiden.
Khusus AS, adalah program PRISM yang menjadi 'senjata' untuk akses mata-mata tak terbatas ini. Bagaimana tidak, program PRISM memperbolehkan NSA untuk mengambil data tanpa harus meminta izin kepada penyedia layanan dan izin pengadilan.
Sumber: The Verge
"Jadi PRISM ini program legal NSA, dan arsitekturnya yang bikin ngeri, ini langsung colok. Mulai dari AT&T, Verizon, Apple, Google, Micorosft, Yahoo, sampai Facebook bisa diakses," ungkap Dimitri.
(tyo/ash)