Selasa, 24 Jun 2014 11:54 WIB

Kisah Juragan Pabrik iPhone

Terry Gou, Miliuner yang Tak Lupa Kampung Halaman

- detikInet
Gou menghadiri konferensi APEC. (gettyimages) Gou menghadiri konferensi APEC. (gettyimages)
Jakarta - Tak ada yang mengira jika Terry Gou bakal menjadi pebisnis sukses yang kaya raya. Terlebih, pemilik Foxconn ini lahir di keluarga sederhana. Namun hidup yang penuh perjuangan itu tak lantas membuat Terry menjadi kacang yang lupa kulitnya.

Orang tua Terry berasal dari desa Gewan, propinsi Shanxi, China. Ayahnya adalah tentara China yang terlibat dalam perang melawan Jepang pada tahun 1931 sampai 1945. Sesudah masa perang, sang ayah menjadi polisi.

Tapi kemudian terjadi pergolakan kekuasaan di China. Sang ayah dan istrinya pun memutuskan mengungsi ke Taiwan pada tahun 1949. Di sana, mereka menetap. Tahun 1950, Terry lahir dengan nama Gou Tai-ming.

Terry adalah anak sulung, dua adiknya laki-laki. Berhasil tamat kuliah, Terry mendapat pekerjaan pertama sebagai karyawan pabrik. Ia kemudian memutuskan menikah pada usia 24 tahun dengan Serena Lin, yang berasal dari keluarga cukup berada.

Meski lahir di Taiwan, Terry tidak melupakan asal-usul orang tuanya, di desa Gewan. Saat sudah kaya, dia menyumbang banyak uang untuk membangun sekolah, peternakan, bahkan mendirikan pabrik Foxconn yang lokasinya berdekatan dengan desa itu, dengan jumlah pekerja 20 ribu orang.

Sebenarnya beberapa analis menganggap pendirian pabrik Foxconn di sana tidak akan menguntungkan secara bisnis. Tapi Terry tetap bersikeras. "Aku bisa saja pergi jika investasiku gagal, tapi tidak di Shanxi," ujarnya.

"Harapan terbesar Terry adalah berinvestasi dan mengembangkan ekonomi di sini. Dia sudah diberitahu kalau investasi di sini kurang bagus, tapi dia tetap bersikeras," kata Gou Xiaoping, keponakannya.

Terry Gou juga memperbaiki kembali rumah orang tuanya. Orang-orang di desa Gewan pun mengidolakannya karena dianggap berjasa besar melakukan pembangunan.

"Dia sudah membangunkan jalan, jembatan, sekolah, apa saja. Tanpa Gou, kualitas hidup kami tidak akan seperti ini," kata Gou Quan Shan, salah seorang petani di desa Gewan.

"Ketika datang di sini, dia diperlakukan seperti seorang raja. Ada banyak polisi dan petugas keamanan. Dia adalah pria yang baik. Dia banyak sekali membantu kami," kata orang desa yang lain.

Terry juga sering mengunjungi tanah kelahirannya di Taiwan, di mana dia dibesarkan di dekat candi Mazu, dewa laut China. Dia selalu menyempatkan datang setiap tahun baru China untuk berdoa di sana. (fyk/ash)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed