Melalui surel yang diterima detikINET, Selasa (13/5/2014), Bobby Gunawan menuturkan kekecewaannya atas tindakan pemerintah menutup akses Vimeo. Padahal, menurut dia, itu bukanlah situs porno. Isinya justru banyak konten yang bermanfaat.
"Orang yang belum pernah memegang kamera, hingga yang sudah menahun hidup dengan kamera bisa mendapatkan pengetahuan lebih di Vimeo. Dia juga bisa menjadi etalase karya-karya agar bisa mendunia," tulisnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Profesi saya sebagai juru kamera di televisi Aljazeera, membuat saya berkeliling ke beberapa negara di Asia Pasifik. Beberapa kali saya memiliki kesempatan meliput ke negara tirai bambu, China. Terbang mulai dari Beijing, Shanghai, hingga provinsi muslim Xinjiang. Masih ingat apa yang saya lakukan pertama kali tiba di sana, membuka internet.
Sudah lama saya dengar kalau internet dibatasai di China. Ada sensor katanya. Iseng bercampur penasaran, dibukalah mesin pencari, dengan mengetikkan Dalai Lama--pemimpin spiritual Tibet yang menjadi musuh china.
Hasilnya, semua situs tidak bisa diakses, jika menulis dalai lama. Karena pemerintah menempatkan filter di Internet untuk menghalangi semua informasi tentang Dalai Lama. Saat itu saya mengucap syukur Alhamdulillah. Mengapa? Karena sensor seperti itu sudah lama mati di Indonesia. Only in China.
Saya adalah pengguna lama Vimeo.com. Sebuah situs video, yang banyak digunakan insan cinematografi, pegiat audio visual lainnya. Situs ini tidak sekadar berbagi video, tetapi berbagi pengetahuan tentang cinematografi.
Orang yang belum pernah memegang kamera, hingga yang sudah menahun hidup dengan kamera bisa mendapatkan pengetahuan lebih di Vimeo. Dia juga bisa menjadi etalase karya-karya agar bisa mendunia.
Buah dari reformasi 1998 adalah kebebasan pers. Media tumbuh subur sebagai the 4 estate setelah Legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Media cetak, radio, tv, lalu internet. Semua muncul dengan pelbagai bentuk dan pesan. Termasuk media sosial facebook, twitter, youtube, dan vimeo.
Kaget bukan kepalang ketika Vimeo tidak bisa lagi saya buka di Internet. Ada apa? Apa salah vimeo? Hingga muncul informasi di media, bahwa vimeo dibredel karena menayangkan isi pornografi. Apakah benar?
Vimeo, Youtube, dan situs sejenis adalah situs video non pornografik. Pengalaman saya, media berbagi video ini cukup ketat dalam masalah pornografi, bahkan hak cipta. Karena mereka memiliki "ideologi" yang melarang hal ini.
Anda tidak akan menemukan konten vulgar seperti situs yang mendedikasikan diri sebagai penyedia layanan pornografi. Kalupun ada muncul video yang beraoma pornografi, itu bisa dilaporkan ke situs yang bersangkutan. Dan bahkan tanpa dibredel negara, mereka sudah menutup akses tersebut.
Apa yang dilakukan Kementrian Informasi dan Komunikasi sungguh konyol. Ini sama saja dengan menutup Facebook, Twitter, karena ada yang berbau pornografi. Sama aja dengan menutup semua blogspot karena ada yang membuat halaman blogspot berisi pornografi. Tindakan offset tanpa sigi yang cerdas.
Tifatul sembiring adalah menteri yang kebetulan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Yang terakhir, belakangan beredar di Vimeo, kampanye kader PKS yang menggunakan penyanyi dangdut erotis. Saya dan teman-teman kok jadi berfikiran liar. Apakah ini ada kaitannya dengan pemblokiran situs Vimeo? Hanya bapak menteri yang bisa menjawabnya.
Selain jurnalis, saya juga seorang ayah. Memiliki dua anak kecil di bawah lima tahun. Mereka sudah bisa mengoperasikan internet. Bisa membuka situs berbagi video untuk melihat tayangan anak anak kesukaan mereka.
Perasaan saya dengan Tifatul sama. Ingin generasi muda tidak mengakses pornografi. Tetapi ada banyak cara memfilter internet. Dan saya menentang dengan aksi penutupan sepihak tanpa ada keterbukaan. Ini namanya kembali ke masa lalu. Rezim otoriter!
Saya berikan analogi keras lainnya. Ini sama saja membunuh semua umat manusia, karena ada satu orang manusia melakukan aksi pedofilia. Padahal tidak ada kaitannya antara si pelaku pedofilia dengan manusia yang lain yang tidak kenal. Logikanya dimana?
Saya dan ribuan pengguna Vimeo di Indonesia membela diri: Vimeo bukan situs porno. Indonesia Bukan Republik Rakyat China. Dimana akuntabilitas sebuah filter internet? Berbahaya jika penutupan internet dilakukan dengan jalan yang tidak jelas. #savevimeo.
Bagaimana dengan Anda, punya tanggapan serupa dengan aksi penutupan Vimeo?
(eno/ash)