"Ada cara simpel menghapus data. Tapi gunanya analis digital forensik kan menemukan data itu kembali. Dan tidak boleh membeberkan -- cara memusnahkan data -- karena itu salah. Nantinya akan mengajarkan orang menghilangkan barang bukti," kata analis digital forensik Ruby Alamsyah saat berbincang dengan detikINET beberapa waktu lalu.
Ada informasi menarik terkait dengan penghapusan data ini. Berdasarkan riset yang pernah dilakukan Ruby, umumnya orang melakukannya menggunakan software yang mengklaim bisa menghapus file secara permanen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data berhasil didapatkan, menurut Ruby, bukan karena saking jagonya keahlian orang yang melakukan digital forensik. Namun lebih lantaran si pembuat software tidak tahu teknik-teknik baru untuk menemukan data yang hilang.
"Makanya tugas analis digital forensik itu me-recovery data. Kesulitannya bukan hanya data yang telah terhapus, tapi juga data tersembunyi, data terenkripsi, itu jauh lebih sulit," papar Ruby.
Namun Ruby tidak mau sesumbar. Ibarat pepatah, di atas langit masih ada langit. Jika orang yang melakukan penghapusan data secara permanen tersebut adalah orang yang kompeten dengan tools yang juga tepat, analis digital forensik pun ada kalanya gagal.
"Jadi ya tetap saja, saya juga tidak bisa membalikkan, gak bisa ngapa-ngapain. Selama ini untuk kasus di Indonesia sih Alhamdulillah selalu dapet ya. Tapi ya ingat, di atas langit masih ada langit," tutupnya.
(rns/ash)