Jumlah tersebut adalah hasil riset dari University of Leicester dan University of Westminster. Para penjahat cinta online biasanya memalsukan identitas. Mereka memakai foto palsu yang atraktif untuk menarik lawan jenis, misalnya foto tentara.
Jika sudah berhasil menjalin hubungan, barulah jurus-jurus untuk meraup uang dari korban dilancarkan. Biasanya para penjahat cyber ini berpura-pura sedang membutuhkan uang dan merayu para korban untuk membantu mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Data kami mengindikasikan jumlah korban orang Inggris dari kriminalitas baru ini jauh lebih tinggi dari laporan. Orang tak hanya kehilangan banyak uang pada kriminal itu, namun juga berimbas secara psikologis," ucap Profesor Monica Whitty dari University of Leicester.
Disarankan agar orang tidak terlalu mudah percaya dengan pihak yang dikenalnya via dunia maya. Apalagi sampai memberikan uang. Demikian seperti dilansir Press Association dan dikutip detikINET, Jumat (30/9/2011).
(fyk/ash)