Nah, pertanyaan yang timbul adalah, mengapa Jakarta menjadi kota terakhir setelah Linimas(s)a diputar di beberapa kota lain sebelumnya seperti Jogja dan Solo.
"Sengaja Jakarta kita taruh yang paling akhir. Kenapa? Karena Jakarta kota yang 'gak penting'," kelakar penggiat ICT Watch, Donny BU, yang disambut tawa peserta diskusi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya ini film buat mengkritik kita semua. Kenapa? Karena infrastruktur telekomunikasi kebanyakan dibangun di Jawa. Film ini merupakan kritik ketidakseimbangunan pembangunan telekomunikasi," imbuh Donny.
Film yang juga dieja @linimas(s)a itu menggambarkan kekuatan gerakan sosial publik di ranah offline maupun online, yang saling beresonansi, bersinergi dan menguatkan secara signifikan.
Dalam film dokumenter berdurasi 45 menit ini diceritakan pula bagaimana pemanfaatan Internet dan media sosial oleh orang biasa untuk melakukan hal yang luar biasa.
Di akhir diskusi, Donny menyampaikan bahwa karya yang telah melewati lembaga sensor film ini bebas dikopi, digandakan, serta dimanfaatkan untuk tujuan positif apapun.
(fw/ash)