Seperti dilansir The Age dan The Sydney Morning Herald (SMH) dalam dokumen Wikileaks terbaru SBY dikaitkan dengan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Ani Yudhoyono dan keluarganya juga dituduh mencari uang untuk memperkaya diri melalui koneksi politik mereka.
Dokumen itu juga menyebutkan bahwa SBY telah secara pribadi campur tangan untuk mempengaruhi jaksa dan hakim untuk melindungi tokoh politik korup dan menekan musuh, dengan menggunakan intelijen Indonesia untuk memata-matai saingan politik dan, setidaknya seorang menteri senior dalam pemerintahan sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Selain SBY, disebutkan pula bagaimana mantan wakil Presiden Jusuf Kalla membayar jutaan dolar untuk 'membeli dan mengendalikan' partai politik terbesar di Indonesia -- Partai Golkar.
Dengan informasi ini, menjadi tambahan isu mengenai Jakarta yang disampaikan Kedubes AS di Jakarta. sebelumnya, Wikileaks mengungkap bahwa berdasar dokumen unclasified dengan Ref. Jakarta 0065, ada permintaan tambahan dana untuk penggunaan media baru dan jejaring sosial di Indonesia untuk memaksimalkan rencana kedatangan Obama pada Maret 2010 lalu.
Adapun permintaan dana yang dimaksud adalah sebesar USD 100 ribu. Misi tersebut dikhususkan bagi promosi dengan penggunaan Twitter, Facebook dan blog untuk mempromosikan pesan dan informasi AS. Dana itu juga dipakai untuk meningkatkan Facebook Fans menjadi 1 juta orang.Β Menurut dokumen tersebut, ini merupakan diplomasi publik 2.0. Upaya itu juga dikutipΒ CNET Asia, sebagai 'A great example of social media interaction in Indonesia'.
Tanggapan Istana
Menanggapi pemberitaan media Australia, khususnya The Age yang menulis "Yudhoyono 'Abused Power'", Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha menegaskan bahwa SBY telah membaca berita yang dilansir dan sangat terkejut dengan pemberitaan tak berdasar fakta dan kebenaran itu. Karena itu, disesalkan kabar atau isu bocoran dari Wikileaks tentang SBY Korup yang jauh dari kebenaran yang terjadi ditulis tanpa melakukan cross check maupun verifikasi.
Ditambahkan Julian, kalaupun benar isi dokumen tersebut bersumber dari kawat diplomatik, hal itu tidak bisa dibenarkan atau sangat jauh dari kenyataan dan kebenarannya.
Yang juga ramai disampaikan ke publik adalah soal menangisnya Ani Yudhoyono karena mendengar kabar tak sedap mengenai tuduhan penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi yang dialamatkan terhadap suami dan keluarganya, termasuk dirinya.Β
Bagaimana Menyikapinya?
Terkait isu yang dilontarkan The Age dan SMH, yang paling pertama dilakukan, tentu saja, adalah perlunya membandingkan dokumen yang ditulis dalam berita-berita tersebut dengan dokumen 'resmi' yang ditampilkan Wikileaks.
Sayangnya, hingga saat tulisan ini dibuat (14/3/2011), dari 'situs resmi' Wikileaks, kawat diplomatik AS yang menyebut penyalahgunaan kekuasaan oleh SBY ini belum muncul. Sehingga, sesungguhnya, masih sumir dan sulit menentukan apakah ini merupakan isu yang dihembuskan The Age atau SMH semata atau memang dari kawat diplomatik AS.
Namun begitu, terlepas bagaimana isi aslinya, tetaplah Wikileaks dipercaya sebagai 'pembocor' dokumen kawat diplomatik yang dibuat Amerika Serikat. Sehingga, semua isi dokumen adalah bagaimana cara pandang AS terhadap kondisi dunia maupun keadaan di suatu negara, termasuk Indonesia.
Dengan adanya dokumen tersebut di Wikileaks, justru Indonesia bisa melihat bagaimana sesungguhnya AS memandang Indonesia. Yang sudah terjadi di beberapa negara yang dilaporkan macam-macam dalam dokumen kawat diplomatik yang sudah tersebar di Wikileaks, secara terang-terangan, halus maupun sembunyi-sembunyi, mereka mulai berpikir negatif terhadap AS.
Dibanding mempertanyakan Wikileaks, yang perlu dikritisi adalah tetap AS sendiri, sebab mungkin saja dari dokumen itu ada yang tidak benar, meski melibatkan intelijen mereka dalam membuat laporan ini.
Sehingga, baiknya kita memang tetap harus kritis terhadap dokumen-dokumen tersebut dan jangan malah diadu domba akibat informasi yang dibuat pihak lain yang tentunya jauh dari memperhatikan bagaimana dampak laporan tersebut jika terbuka dan diketahui publik Indonesia, seperti sekarang ini.
Penulis, adalah Heru Sutadi seorang pengamat Teknologi Informasi. Ia dapat dihubungi melalui email: herusutadi@hotmail.com dan Twitter: @herusutadi.
(ash/ash)