Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Laporan dari Las Vegas
Menilik Jurus Lenovo di Social Media
Laporan dari Las Vegas

Menilik Jurus Lenovo di Social Media


- detikInet

Jakarta - Di ajang Consumer Electronic Show 2011, Las Vegas, detikINET berkesempatan berbincang dengan David Roman, Chief Marketing Officer dan Senior Vice President Lenovo, tentang marketing dan social media.

Roman adalah salah satu 'guru besar' pemasaran di ranah PC. Ia banyak meraih pujian saat menggelar kampanye 'The Computer Is Personal Again' bersama Hewlett-Packard (HP) sebelum bergabung dengan Lenovo.

Roman membahas beberapa mitos atau pemahaman yang salah soal social media sebagai alat branding. Berikut adalah intisarinya dari bincang-bincang yang dilakukan di restoran The Aquanox, hotel The Venetian, Las Vegas:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Mitos: Social Media itu Murah

"Awalnya, para pemasar salah sangka dan menganggap social media adalah alternatif murah untuk berkampanye," kata Roman.

Kenyataannya, ujar Roman, tidak sesederhana itu. Brand harus terlibat dengan pengguna social media dan itu butuh perencanaan yang baik, tak bisa sekadar 'membeli' dengan harga murah.

2. Mitos: Social Media adalah Kepanjangan Tangan Kampanye Besar

Roman mengatakan hal yang penting adalah tingkat keterlibatan dengan pengguna. "Kami harus melihat, apa yang sedang terjadi, apa yang sedang mereka lakukan. Tidak bisa sekadar menjadi kepanjangan kampanye yang sudah ada," ujarnya.

Roman mencontohkan, pengguna Social Media bisa jadi memiliki perhatian pada isu-isu sosial atau lingkungan hidup tertentu. "Kami akan datang, dan menyediakan apa yang bisa kami berikan," ia menambahkan.

3. Mitos: Viral Itu Penting

Salah satu 'fenomena' online adalah viral, yaitu konten yang menyebar dari orang ke orang secara luas.

Roman menyadari bahwa pesan dari mulut ke mulut bisa punya dampak besar. Namun ia skeptis hal itu bisa dicapai dengan sekadar membuat konten viral.

"Saya sangat skeptis bahwa kita bisa, datang ke orang dan membayar untuk dibuatkan sesuatu agar jadi viral. Saya rasa tidak seperti itu caranya," kata Roman.

4. Mitos: Social Media Bisa Disetir

Satu hal yang jelas, Roman menegaskan, social media tidak bisa dikendalikan. "Saat terjun ke social media, kami harus siap kehilangan kendali. Jika mereka melihat sesuatu yang bagus, ya akan ditulis. Jika hal yang buruk, ya itu juga ditulis," ujarnya.

Meski demikian, Roman menilai umpan balik yang didapatkan dari social media bisa sangat berguna. Lenovo pun mengaku memiliki sebuah tim khusus untuk melakukan program keterlibatan dengan social media.

(wsh/ash)







Hide Ads