"Sopirnya gak tau jalan. Masa kita ditanya mau lewat mana? Padahal kan itu tugas mereka nyari jalan yang paling deket dan gak kena macet. Kok malah nanya ke penumpang. Paling males deh ketemu sopir taksi yang begitu.β
Karena bukan orang kantoran, saya cukup beruntung tidak harus setiap hari mondar-mandir naik angkutan umum βtermasuk taksi-- dari rumah ke kantor, atau sebaliknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum lama ini, untuk suatu urusan yang tidak bisa dilakukan online, saya datang ke kantor. Satu jam kemudian, bersama seorang kawan, saya harus pergi ke satu mall untuk satu urusan yang lain. Dengan alasan βmales nyetir di jam-jam orang pulang kantorβ, kami berdua sepakat untuk naik taksi saja ke sana.
Baru juga duduk, sopir taksinya membuka percakapan dengan logat Jawa yang kental.
βMas, maaf, terus terang saya ndak tau jalan. Belum pernah ke sana. Lewat mana, ya?β
Antara kasihan dan kesal, teman saya balik tanya.
βLah, mas udah berapa lama kerja di sini? Kok gak tau jalan?β
βBaru dua minggu. Modal nekat aja nglamar, eh diterima. Ya namanya juga usaha, cari makan buat anak bojo.β
Lantas di sepanjang perjalanan yang sebenarnya juga tidak terlalu jauh, teman saya βsambil menjadi pemandu jalan buat pak sopir-- bertanya ini itu. Saya? Tugas saya adalah duduk manis dan mencatat obrolan mereka, kemudian menuliskannya.
Jadi ternyata, mas sopir yang masih cukup muda ini, benar-benar orang baru di Jakarta. Datang dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah, dan seperti jutaan orang lain, dia terpaksa pindah, dan mencoba peruntungan di ibukota. Sama sekali bukan sesuatu yang salah. Namanya juga usaha.
Nah, masalah timbul ketika pekerjaan menuntutnya untuk tau jalan. Orang-orang yang merasa sudah mengeluarkan sejumlah uang untuk naik taksi, pasti berharap bisa duduk tenang tanpa harus ikut memikirkan harus lewat mana. Terima beres. Yang penting sampai dengan selamat di tempat tujuan. Itu juga wajar dan tidak bisa disalahkan.
Yang membuat sedikit heran, kenapa perusahaan taksi di Jakarta tidak membekali semua pengemudinya dengan alat bantu seperti GPS, ya?
Untuk kota sebesar ini, ditambah dengan tata kota yang βsiapa pun pahamβlumayan membingungkan, seharusnya setiap perusahaan taksi melengkapi armadanya dengan GPS. Untuk kenyamanan semua pihak.
Bahkan di Singapura, yang luas kotanya tidak ada apa-apanya dibandingkan Jakarta, para pengemudi sudah mengandalkan kecanggihan alat pembaca posisi ini.
Saya pribadi, entah karena memang benar apa kata orang bahwa perempuan tidak bisa membaca peta, sampai sekarang masih memilih cara paling aman. Google maps tidak terlalu membantu. Rasanya aneh dan bingung kalau harus nyetir sambil mantengin layar handphone. GPS, saya belum punya, karena belum terlalu perlu, dan harganya lumayan mahal.
Lalu bagaimana caranya supaya tidak nyasar? Sampai hari ini, saya masih mengandalkan βGPSβ paling sederhana, tapi juga paling akurat: kebaikan hati teman-teman.
Kalau mau jalan ke suatu alamat dan sama sekali buta daerah itu, saya tinggal bertanya sambil lalu di milis atau twitter. Masih bingung juga? Gampang. Tinggal telepon salah satu dari mereka, dan sampailah saya di sana.
![]() | Tentang Penulis: Venus adalah seorang blogger dan social media specialist. Ia bisa dihubungi di http://venus-to-mars.com atau melalui akun @venustweets di Twitter. |
