Laboratorium tersebut merupakan bantuan dari Kedutaan Besar AS melalui program Decentralized Based Education (DBE) USAID yang didukung oleh Kementerian Kesejahteraan Rakyat dan Kementerian Pendidikan Nasional serta sejumlah perusahaan mitra DBE, seperti Intel, Microsoft, Cisco, Qualcomm, Indosat, Hewlett Packard, dan Oracle.
Dalam sambutannya, Dubes Cameron Hume mengatakan, keberadaan laboratorium yang merupakan bantuan dari berbagai pihak tersebut merupakan salah satu contoh penting dari keberhasilan yang bisa dicapai melalui adanya kemitraan. "Kita akan dapat mencapai sesuatu yang lebih baik apabila kita lakukan dengan mitra, daripada bila kita mengerjakannya seorang diri," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cameron melanjutkan, dengan adanya laboratorium ini, murid-murid akan mendapatkan pengetahuan yang lebih mengenai apapun di seluruh dunia. "Mereka akan mendapatkan informasi yang lebih, membawanya ke dalam desktop mereka, mempelajari dan memperbaharuinya dalam dokumen baru, dan menyebarluaskannya kembali kepada seluruh dunia," imbuhnya.
Sementara Wakil Mendiknas, Fasli Jalal mengatakan, meskipun perkembangan teknologi, seperti komputer dan internet memiliki dampak buruk, namun kita harus percaya bahwa kita mampu mengontrol teknologi. "Sehingga manfaatnya tidak jatuh kepada mudharat, melainkan bisa kita maksimalkan," jelasnya, dalam keterangan tertulis yang diterima detikINET, Senin (26/7/2010). (ash/rns)