Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Menghitung Peluang Media Cetak vs Media Online

Menghitung Peluang Media Cetak vs Media Online


- detikInet

Jakarta - Seiring berkembangnya jaman, selera konsumen pun berubah. Di tengah maraknya pertumbuhan media online, mampukah media-media cetak bertahan?

Bertempat di Capocaccia Cafe, pada diskusi media dalam rangka Anugerah Adiwarta ke-5, Senin (22/3/2010), beberapa redaksi media besar di Indonesia tampil sebagai pembicara. Dimoderatori oleh Andy F. Noya, diskusi ini berlangsung menarik.

Andy memberi sebuah pancingan menarik bahwa kasus cetak vs online ini, apakah sama seperti kasus radio vs TV yang dahulu disangsikan banyak orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tampil dari media cetak Primus Dorimulu selaku Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan memberi pernyataan. "Berdasarkan survei kecil-kecilan, media cetak masih bisa bertahan," ujarnya.

Menurut Primus, bertahannya media cetak ini dikarenakan habbit pembaca yang masih nyaman membaca koran, bagi pembaca berusia di atas 35 tahun. Selain itu berdasarkan fakta di lapangan, konglomerat saat ini masih melirik iklan di cetak, setelah TV mungkin yang paling besar.

Memang dalam diskusi ini diakui bahwa media online walaupun pasar pembacanya besar namun kue iklannya masih tergolong kecil jika dibandingkan media cetak dan TV.

Ditambahkan oleh Ninok Laksono, pendiri Kompas.com bahwa media online hanyalah sebatas "knowing" bukan "reading". Nah, inilah yang terjadi saat ini bahwa adanya peristiwa bom, orang bakal mencari infonya terlebih dahulu di media online. Baru pagi harinya mereka mencari info lanjut di media cetak.

Hasil dari diskusi ini menyimpulkan bahwa di era masyarakat yang sedang mengalami konvergensi teknologi ini, media cetak tidak akan mati, namun juga akan terkonvergensi menyesuaikan kebutuhan pembaca.

Intisari diskusi ini diperkuat dengan penjelasan Ade Armando, Anggota Dewan Juri Anugerah Adiwarta. "Masih ada peluang bagi media cetak untuk bertahan dengan kelemahan-kelemahan media online dan TV. Online dan TV tak bisa menuliskan soal kedalaman berita, sama seperti cetak," paparnya.

Terkait hal tersebut, saat ini gaya berita cetak juga bakal berubah sesuai perkembangan jaman. "Jika cetak masih bermain di hard news, maka mereka akan dihabisi oleh online dan TV," pungkasnya.
(fw/ash)





Hide Ads