Menurut Tifatul, RPM itu sengaja dilempar ke publik demi mendapatkan masukan dan koreksi. "Kami sengaja melempar ke masyarakat. Sangat wajar kalau ada peraturan sebelum ditandatangani dilempar ke publik," ujar pria yang gemar berpantun ini.
Nah, Tifatul melanjutkan, menurut pendapatnya RPM Konten itu dilandasi semangat membatasi distribusi konten tertentu. Dalam hal ini termasuk konten yang melecehkan suku, agama atau ras tertentu (SARA), konten judi dan kekerasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya semangat RPM itu juga sebagai penyeimbang dari kemajuan teknologi yang ingin didorong pemerintah. "Semangat pemerintah bukan hanya memajukan bangsa indonesia maju di bidang ICT saja, tapi juga untuk membangun karakter nasional," ia mencoba menjelaskan.
Saat ditanya soal desas-desus reshuffle, Tifatul kembali mengeluarkan jurus kata-kata mutiaranya. Meskipun kali ini bentuknya bukan pantun, tapi sebuah perumpamaan. "Itu kan baru kemungkinan, mungkin gak gajah bertelur? Itu baru seandainya," tukas Tifatul.
(wsh/wsh)