"Game memberikan wawasan internasional. Anak-anak akan memiliki kemampuan adaptasi terhadap teknologi. Jangan dilarang. Perhatikan saja jadwalnya, jangan kebablasan," ujarnya saat berbincang dengan detikINET usai membuka Speedy Games Championship di Paris Van Java, Sabtu (23/1/2010) petang.
Menurut Dede, stigma negatif masyarakat terhadap game justru akan menghambat perkembangan daya kreatifitas dan daya imajinasi generasi muda. Karena baginya, selain untuk relaksasi, bermain game sekaligus untuk mengasah kreatifitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dede, dengan bermain game, anak-anak akan lebih dini mengenal teknologi.
Tak hanya itu, game juga bisa mendukung anak-anak dalam kegiatan belajarnya. "Kan ada game yang bercerita tentang sejarah. Mereka (anak-anak - red) bisa belajar sejarah dari situ. Dan akan lebih mudah untuk mengerti ketimbang mereka hanya belajar dari buku," tuturnya.
Pun demikian, Dede wanti-wanti agar dalam bermain gama harus ada pengawasan dari orang tuanya. Jangan membiarkan anak-anak bermain game yang mengandung unsur kekerasan serta berlama-lama main game.
Dede berkata demikian berdasarkan pengalamannya selama ini. Dulu Dede mengaku bisa bertahan selama 12 jam di depan monitor untuk bermain game. Tapi setelah dirinya menjabat sebagai Wagub, Dede hanya punya waktu 2 jam saja untuk memuaskan hasrat bermain game.
"Dulu saya kebablasan. Bisa dari jam 9 malam sampai jam 9 pagi. Tapi sekarang maksimal hanya 2 jam saja," katanya.
Ditanya peralatan tempurnya saat bermain game, Dede mengaku lengkap memiliki konsol game yang beredar di pasaran saat ini. "Saya punya Xbox, PS 3 dan Nitendo Wii di rumah. Biasa saya main sendiri atau sama anak-anak," tutupnya. (afz/fyk)