Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Tertinggal dari Xiaomi hingga Samsung, vivo Juru Kunci Pasar HP RI

Tertinggal dari Xiaomi hingga Samsung, vivo Juru Kunci Pasar HP RI


Dhafin Armia - detikInet

Logo Vivo
Foto: dok. Vivo
Jakarta -

Posisi vivo dalam persaingan pasar smartphone Indonesia 2025 berada di bawah tekanan. Vendor ini menempati urutan kelima di antara lima besar merek smartphone di Indonesia dengan pangsa pasar 15%.

Berdasarkan artikel TelecomLead yang mengutip laporan Omdia, Xiaomi memimpin pasar smartphone Indonesia pada 2025 dengan pangsa 19%. Posisi berikutnya ditempati Transsion 18%, Samsung 17%, OPPO 16%, dan vivo 15%.

Dengan capaian itu, vivo menjadi merek dengan pangsa pasar paling kecil di kelompok lima besar. Meski begitu, persaingan antarpemain papan atas masih terbilang rapat karena selisih pangsa pasar antara lima vendor teratas hanya 4 poin persentase.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

vivo Jadi yang Paling Belakang di Lima Besar

Posisi ini membuat vivo berada di belakang empat pesaing utamanya, yakni Xiaomi, Transsion, Samsung, dan OPPO. Di tengah pasar yang bergerak sangat kompetitif, posisi kelima dengan pangsa 15% menunjukkan bahwa ruang gerak vivo makin sempit bila dibandingkan rival-rivalnya.

ADVERTISEMENT

Dalam laman TelecomLead, vivo masih agresif di segmen menengah dan 5G entry-level. Strategi ini disebut menyasar konsumen yang baru pertama kali upgrade perangkat serta kelompok usia muda.

"vivo tetap agresif di segmen 5G kelas menengah dan entry-level, dengan menargetkan pengguna yang baru pertama kali beralih ke perangkat 5G serta kelompok usia muda," dikutip dari TelecomLead, Senin (16/3/2026).

Dari sini terlihat salah satu pijakan utama vivo untuk menjaga daya saingnya ada di segmen ponsel 5G harga terjangkau. Di tengah tekanan pasar, lini inilah yang tampak menjadi andalan vivo untuk tetap relevan dalam perebutan konsumen Indonesia.

Pasar Masuk Era Value-First

Kondisi itu terjadi di tengah perubahan pasar smartphone Indonesia yang disebut mulai masuk era value-first. Artinya, keputusan pembelian makin dipengaruhi oleh faktor harga, bundling data, pengalaman software, dan integrasi ekosistem, bukan hanya spesifikasi hardware.

Dalam situasi seperti ini, vendor tak cukup hanya menawarkan spesifikasi tinggi. Mereka juga dituntut menghadirkan produk dengan nilai yang terasa pas di kantong konsumen, terutama di kelas entry-level dan menengah.

Bagi vivo, perubahan ini membuat persaingan makin berat. Sebab, lawan-lawannya juga agresif bermain di segmen harga terjangkau dengan strategi produk dan distribusi yang kuat.

Tekanan Tak Hanya Terjadi di Indonesia

Tekanan yang dihadapi vivo juga sejalan dengan kondisi pasar Asia Tenggara secara umum. Omdia melaporkan pengiriman smartphone di kawasan Asia Tenggara turun 1% secara tahunan pada kuartal III 2025 menjadi 25,6 juta unit. Penurunan ini menandai kontraksi tahunan selama tiga kuartal berturut-turut, di tengah tekanan biaya komponen dan persaingan yang semakin sengit.

Di level regional, vivo berada di posisi kelima dengan pengiriman 2,9 juta unit dan pangsa pasar 11%. Omdia juga mencatat performa vivo ditopang kehadiran SKU baru seri Y yang melengkapi lini menengah seri V.

Namun, analis Omdia menilai OPPO dan vivo kini cenderung memprioritaskan value ketimbang volume. Artinya, kedua vendor dinilai lebih fokus menjaga nilai produk dan profitabilitas, sementara sejumlah merek lain lebih agresif mengejar penetrasi lewat volume penjualan.

5G Entry-Level Jadi Tumpuan

Kondisi tersebut membuat segmen 5G entry-level menjadi penting bagi vivo. Saat pasar semakin sensitif terhadap harga, perangkat 5G dengan banderol lebih terjangkau menjadi salah satu cara untuk menjaga minat konsumen, khususnya pengguna yang baru ingin naik kelas ke perangkat 5G.

Tekanan juga datang dari kenaikan biaya komponen. Dalam laporan itu disebut OPPO dan vivo melakukan reposisi produk dengan menonjolkan fitur pembeda seperti daya tahan perangkat, baterai lebih besar, dan optimalisasi kamera untuk menopang harga jual di tengah inflasi biaya memori.

Omdia menambahkan, kenaikan bill of materials yang dipicu harga memori dan storage memberi tekanan besar pada perangkat berharga murah. Kondisi ini dinilai sangat relevan untuk Asia Tenggara karena lebih dari 60% smartphone yang dikirim ke kawasan ini dijual dengan harga di bawah US$ 200.

Dengan kondisi seperti itu, strategi vivo di segmen 5G entry-level bukan sekadar pilihan, melainkan menjadi salah satu tumpuan penting untuk menjaga posisinya di tengah serbuan merek lain yang sama-sama agresif di pasar perangkat terjangkau.

Konsumen RI Sangat Sensitif terhadap Harga

Dari sisi konsumen, pasar Indonesia masih sangat sensitif terhadap harga. Preferensi pembeli disebut kuat pada smartphone 5G kelas menengah di bawah Rp 5 juta, pembelian offline dengan dukungan cicilan, bundling data, serta perangkat yang cocok untuk media sosial dan gaming.

Omdia juga mencatat Indonesia, bersama Filipina, termasuk pasar yang sangat peka terhadap harga. Dalam konteks ini, agresivitas merek-merek yang bermain di segmen terjangkau ikut memperketat persaingan, terutama di kelas entry-level dan mid-range.

Artinya, vivo tidak hanya harus berhadapan dengan ketatnya persaingan lima besar, tetapi juga dengan karakter pasar yang menuntut harga kompetitif sekaligus fitur yang relevan.

Ekspansi 5G Bikin Persaingan Makin Sengit

TelecomLead juga menyoroti ekspansi 5G operator ikut memengaruhi pasar perangkat. Merger XL Axiata dan Smartfren menjadi XLSMART serta ekspansi 5G oleh operator seperti Telkomsel disebut mendorong adopsi handset 5G di Indonesia.

Di satu sisi, perkembangan ini membuka peluang bagi vendor yang punya lini 5G terjangkau. Namun di sisi lain, hal itu juga membuat persaingan di kelas 5G entry-level makin padat karena semua merek berlomba merebut pengguna baru.

Dengan situasi seperti itu, posisi vivo di pasar smartphone Indonesia 2025 bisa dibaca sebagai berada di bawah tekanan kuat. Pangsa pasar 15% menempatkannya di posisi paling belakang di antara lima besar, sementara segmen 5G entry-level dan menengah tampak menjadi tumpuan utama vivo untuk menjaga daya saing di tengah gempuran Xiaomi, Transsion, Samsung, dan OPPO.




(akn/ega)






Hide Ads