×
Ad

Gila! RAM DDR5 64GB Kini Lebih Mahal dari MacBook Air

Adi Fida Rahman - detikInet
Sabtu, 21 Feb 2026 11:15 WIB
Halaman ke 1 dari 2
Gila! RAM DDR5 64GB Kini Lebih Mahal dari MacBook Air. Foto: Techradar
Jakarta -

Dulu, memilih RAM adalah keputusan sederhana soal kapasitas dan kecepatan. Namun kini, para pengguna tidak hanya harus mempertimbangkan berapa banyak memori yang dibutuhkan, tetapi juga apakah dompet mereka masih sanggup menahan gejolak harga yang terus melambung tak terkendali.

Fenomena "cipflasi" atau inflasi chip sedang melanda dunia, dan dampaknya terasa sangat nyata di sektor memori komputer. Data terkini dari situs pelacak harga PCPartPicker menunjukkan bahwa kit (paket) RAM DDR5 berkapasitas 64 GB kini telah menembus angka USD1.000 atau sekitar Rp 16 juta.

Angka tersebut bahkan lebih mahal dari harga sebuah laptop baru, seperti MacBook Air kelas entry-level.

Harga Melonjak 300% dalam Enam Bulan

Dilansir Techradar, hanya beberapa bulan lalu, kapasitas 64 GB masih dianggap sebagai peningkatan yang wajar, bukan barang mewah. Pada Agustus 2025, kit DDR5 64 GB masih dijual di bawah USD250 atau sekitar Rp4 juta. Namun, dalam waktu enam bulan saja, harganya melonjak sekitar 300%.

Bahkan sebulan yang lalu, harga rata-rata masih bergerak di kisaran USD600-700 (Rp9,6 juta - Rp11,2 juta). Angka itu memang sudah terasa mahal, tetapi belum menyentuh empat digit dolar.

Lonjakan terjadi sangat cepat dalam beberapa minggu terakhir. Harga yang semula naik pelan-pelan kini berubah menjadi kurva hampir vertikal, di mana sekitar 50 persen kenaikan terjadi hanya dalam satu bulan terakhir.

Kenaikan sedemikian tajam ini hingga mendistorsi tampilan grafik pelacakan harga di PCPartPicker. Periode stabilitas bertahun-tahun yang panjang terkompresi menjadi garis tipis, lalu disusul lonjakan dramatis di ujung grafik.

Biang Kerok

Para penggemar teknologi mungkin langsung menuding kecerdasan buatan (AI) sebagai penyebabnya, dan itu tidak sepenuhnya salah. Permintaan memori yang sangat besar dari pusat data AI menjadi penyebab utama. Namun, ada faktor lain yang memperparah keadaan.

Penyebab utamanya adalah ketidakmampuan produksi DRAM global mengimbangi lonjakan permintaan. Produsen memori seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron kini lebih memilih memproduksi memori khusus untuk server AI yang memiliki margin keuntungan jauh lebih tinggi.

Akibatnya, lini produksi untuk memori generasi lama dihentikan, sementara kapasitas produksi untuk generasi baru lebih diprioritaskan bagi pelanggan korporat.

Laporan dari Vietnam's Finance membongkar fakta mengejutkan: saat ini, sektor AI diperkirakan menyerap sekitar 53 persen dari total kapasitas produksi DRAM dunia setiap bulannya. Alhasil, pasar RAM konsumen menjadi sangat rentan dan harganya melambung setiap kali pasokan mengalami gangguan.



Simak Video "Video: Ekspresi Bill Gates saat Bilang Menyesal Kenal Epstein"

(afr/afr)
HALAMAN SELANJUTNYA
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork