Laptop US$150 Siap Dibagikan ke 8 Negara Berkembang
- detikInet
Jakarta -
Sebanyak 2.500 unit laptop murah seharga US$150 akan dibagikan ke delapan negara berkembang pada bulan Februari ini, menyusul Indonesia dan beberapa negara berkembang lainnya.Brazil, Uruguay, Libya, Rwanda, Pakistan, Thailand dan kemungkinan Ethiopia dan kawasan West Bank adalah daftar negara berkembang pertama yang siap menerima laptop seharga Rp 1,3 juta itu (US$1 = Rp 9.041 Sumber: detik.com).Seperti diberitakan sebelumnya, laptop US$ 150 merupakan bagian dari proyek One Laptop per Child (OLPC), yang digawangi oleh Nicholas Negroponte dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).Negara-negara berkembang yang terdaftar dalam proyek OLPC sedianya akan mendapatkan laptop murah tersebut. Pengiriman laptop tersebut merupakan proyek uji coba (pilot project) sebelum melangkah ke produksi masal, yang rencananya akan dimulai pada Juli 2007 dengan target 5 juta unit laptop.Melalui laptop itu, anak-anak di negara berkembang diharapkan bisa mencicipi kemajuan teknologi. Pasalnya, laptop bersistem operasi Linux dan dilengkapi dengan Wi-Fi ini juga memiliki fasilitas untuk membaca buku elektronik, kamera video digital, membuat komposisi musik dan chatting dengan teman-teman kelas mereka secara online. Laptop ini juga dilengkapi engkol tangan sebagai pembangkit listrik.Harga Bisa Lebih MurahTahun depan, menurut operator proyek, harga laptop diharapkan turun menjadi US$ 100 atau sekitar Rp 900 ribuan per unitnya, ketika produksinya mencapai 50 juta unit. Dan menjelang 2010, ketika target produksi mencapai 150 juta, tak menutup kemungkinkan harga laptop turun hingga dibawah US$ 100."Kami berupaya untuk menurunkan harga. Daripada terus menambah fitur yang membuat harga naik, kami berupaya tetap memakai fitur yang sudah ada dan kemudian menurunkan harganya," ujar walter Blender, presiden proyek bagian software dan konten, seperti dilansir Reuters dan dikutip detikINET, Selasa (13/2/2007).Bebani Negara?Rupanya tak setiap orang gembira menanggapi proyek laptop murah ini. Beberapa pihak memprediksi proyek ini hanya akan membebani negara dan tidak ada jaminan kesuksesan didalamnya. Sementara pihak lain beranggapan, uang untuk membeli laptop lebih baik digunakan untuk makanan, obat-obatan, perpustakaan dan urusan sekolah.Di Afrika sendiri, para pejabatnya mempertanyakan kesesuaian pendidikan untuk anak-anak di luar Amerika Serikat. Bahkan ada yang meragukan apakah laptop ini nantinya tidak diperjualbelikan secara ilegal oleh keluarga-keluarga yang kurang mampu.Wayan Vota, direktur Geekcorps dari yayasan nirlaba yang mempromosikan teknologi komunikasi di negara berkembang beranggapan sama. "Jika Anda melihat biaya pembelian laptop untuk setiap anak di Nigeria, hal itu akan menghabiskan 73% dana Nigeria. Persentase itu bukan untuk bagian pendidikan, tapi persentase keseluruhan yang dimiliki Nigeria," ujarnya.Ethan Zuckerman dari Harvard's Berkman Center for Internet and Society mengungkapkan, kalangan pendidik kemungkinan kurang menyetujui proyek ini karena laptop tersebut didisain untuk mendorong siswa bereksperimen dengan musik, membuat video hingga menulis program mereka sendiri.Meski begitu, keduanya berharap proyek OLPC akan menjadi pionir laptop bertenaga 2 watt, yang tidak dilengkapi hard disk, mengandalkan memori flash dan 4 port USB sebagai memori tambahan, dibanding dengan laptop sejenis yang bertenaga 30 hingga 40 watt.Mengenai kemungkinan penjualan laptop tersebut di pasar gelap, Bender membantahnya. Menurutnya, laptop ini akan secara remote dimatikan untuk mencegah terjadinya praktik penjualan ilegal di pasar gelap. Di lain sisi Vota berkeyakinan hacker akan tetap mencoba membeli laptop tersebut dan dengan mudah membobol kodenya.
(dwn/dwn)