60% Aplikasi e-Learning di Perusahaan Salah Sasaran
- detikInet
Jakarta -
Aplikasi e-learning mulai banyak diterapkan untuk keperluan sumber daya manusia (SDM) di perusahaan. Tapi sekitar 60% diantaranya melenceng dari target.Hal itu diungkap Djarot Subiantoro, Presiden Direktur perusahaan pengembang sistem teknologi informasi (TI), PT. Sigma Cipta Caraka kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (14/2/2006). Menurutnya, ada sejumlah hal yang menyebabkan implementasi e-learning salah sasaran, yaitu SDM yang mendapat pelatihan e-learning dinilai kurang tepat dan kurang kesungguhan dalam pemberian pelatihan."Biasanya perusahaan hanya mentraining pegawai yang tidak sibuk dan pelatihan yang diberikan biasanya hanya sebagai reward," ungkap Djarot. "Perusahaan kadang tak peduli pada hasil akhirnya. Seharusnya intisari pelatihan itu untuk mengasah pengembangan ketrampilan SDM."Menurut Djarot, program e-learning sebenarnya sudah lama dikenal di Indonesia. Sistem belajar jarak jauh ini dinilai memudahkan dalam penyampaian materi, karena dapat menghemat buku dan waktu belajarnya bisa lebih fleksibel. Djarot menekankan perlunya waktu yang tepat untuk penerapan e-learning. "Momentum implementasi e-learning dipengaruhi tiga faktor yaitu people, technology and process (PTP)," paparnya. "Ketiganya harus berjalan berbarengan."Dalam kesempatan yang sama, PT. Sigma Cipta Caraka mengumumkan kerjasamanya dengan Oracle Indonesia. Sigma dalam hal ini menjadi mitra untuk pengimpelementasian Oracle iLearning Management Solutions, aplikasi manajemen pembelajaran SDM menggunakan teknologi berbasis internet.PT Oracle sebagai pemilik produk ini mempercayakan pengimplementasian aplikasi pada SSI (Sigma Solusi Integrasi) anak perusahaan Sigma Cipta Caraka.Sebelumnya, SSI bersama Oracle telah bekerajasama dalam implementasi solusi TI lainnya, yang khusus menangani bidang SDM, di beberapa perusahaan seperti bank BNI, Telkomsel, Astra Credit Company, dan Unocal. SSI juga merupakan mitra yang mengimpelementasikan aplikasi Oracle untuk SDM di Indonesia, dengan skala karyawan terbesar mencapai 20.000 karyawan. (nks)
(ketepi/)