Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Keranjang Bayi Canggih Selamatkan Bayi Buangan

Keranjang Bayi Canggih Selamatkan Bayi Buangan


- detikInet

Jakarta - Kita tentu sering mendengar ada begitu banyak bayi yang dibuang setelah dilahirkan. Lokasi pembuangannya pun sangat tak berperikemanusiaan, mulai dari tempat sampah, sungai dan selokan, bahkan di WC umum. Kita pasti dibuat miris dan bergidik mendengarnya.Mencoba menyediakan tempat yang lebih layak bagi bayi terbuang, sebuah organisasi nirlaba di Italia lalu mengupayakan keranjang bayi berteknologi canggih. Keranjang ini dilengkapi sensor, penghangat dan fasilitas pemanggil ambulan. Bahannya terbuat dari logam, bagian sampingnya bisa dibuka-tutup dan bagian dalamnya berlapis busa dan kain. WiredNews.com yang dikutip detikinet, Rabu (4/1/2006) melansir, keranjang bayi ini ada di Padua, kota kecil di Italia bagian Utara. Cara kerjanya adalah sebagai berikut: jika tutup keranjang dibuka, akan ada alarm yang bunyinya terdengar di dalam gedung, memberitahukan para petugas sosial yang bertugas 24 jam. Saat bayi diletakkan dalam keranjang, sensor berat (weight-triggered sensor) akan aktif dua menit kemudian. Sensor ini lalu mengirim sinyal suara yang lebih keras lagi. Saat terisi bayi, suhu di dalam keranjang akan menghangat dan secara otomatis mengirim panggilan ke layanan ambulan terdekat. Meski dibuat secanggih dan senyaman apa pun, jika bisa memilih, para bayi pasti menginginkan pelukan hangat penuh cinta dari orang tuanya. Sekilas, bentuk keranjang ini lebih mirip penampung barang bekas daripada inkubator bayi. Akan tetapi, tempat ini jauh lebih layak dibanding keranjang sampah atau selokan. Dan jadi tempat yang lebih baik untuk membantu menyelamatkan jiwa dan masa depan bayi buangan.Keranjang bayi yang dinamai 'keranjang kehidupan' (cradle for life) ini, adalah sumbangan kelompok anti aborsi 'Movement for Life'. Tiap unitnya menghabiskan biaya 6.300 euro (1 Euro = Rp 11.312, sumber detik.com) dan waktu hampir satu tahun untuk perancangan dan instalasi. Tahun 2005, sudah ada enam buah keranjang yang didonasikan.Liliana Bovo dari Movement for Life di Padua mengatakan, proses yang paling banyak menghabiskan waktu adalah mencari tempat untuk meletakkan keranjang-keranjang tersebut. "Kami sudah mencarinya selama kurang lebih enam tahun," kata Bovo. "Rumah sakit tidak mau menerima keranjang ini, jadi kami kembali ke tempat di mana bayi-bayi biasa ditinggalkan."Di Padua, sejak tahun 1400-an sampai 1888, para wanita meninggalkan bayi di depan gereja Ognissanti. Saat ditinggalkan, para bayi ditempatkan di dalam keranjang dan diselimuti, berharap mereka diselamatkan para biarawati dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik di gereja.Saat ini, keranjang canggih ditempatkan di Via Ognissanti 70, di depan bangunan kantor yayasan Opai-Seef, yang menampung wanita-wanita hamil tanpa suami. (ketepi/)





Hide Ads