BERITA TERBARU
Rabu, 28 Feb 2018 22:15 WIB

Alasan Zyrex Vakum Lama di Bisnis Laptop

Muhammad Alif Goenawan - detikInet
Foto: Muhammad Alif Goenawan/detikINET Foto: Muhammad Alif Goenawan/detikINET
Jakarta - Sebagai produsen komputer lokal, nama Zyrex mungkin sudah tak asing di telinga sebagian konsumen di Indonesia. Berbagai macam produk komputasi seperti PC desktop, laptop, dan server sudah banyak diciptakan.

Hanya saja, bisnis laptop Zyrex dalam beberapa tahun ke belakang memang meredup. Di hadapan sejumlah awak media, termasuk detikINET, pendiri Zyrex Timothy Siddik memaparkan alasannya.

"Pada saat itu kami melihat bahwa kompetisi bisnis di laptop itu tidak begitu sehat karena yang dikompetisikan hanya harga harga yang paling murah dan market share. Jadi, kami melihat itu bukan suatu ranah bisnis yang sehat, sehingga kami mencoba untuk menarik diri," ujarnya ditemui di JSC Hive, Jakarta, Rabu (28/2/2018).

Meski menarik diri dari bisnis laptop, Zyrex mengaku tetap menekuni bisnis komputasi yang lain, seperti PC desktop dan server. Baru kemudian di akhir 2016, Timothy melihat ada pergeseran tren bisnis laptop.

Foto: Muhammad Alif Goenawan/detikINET

"Di 2016 akhir, ranah persaingan bisnis (laptop) sudah mulai berbeda. Lebih meilhat kepada bahwa sebuah produk itu nilainya apa, layanan service nya apa, kami kembali," paparnya.

Lebih Serius di Bisnis Smartphone

Tak melulu berkecimpung di bisnis laptop dan PC, Zyrex pun tak menampik tergiur dengan bisnis smartphone. Hanya saja, selama ini bisnis smartphone Zyrex masih fokus pada penjualan di kota-kota besar.

"Kami akan mencoba lebih serius di bisnis smartphone yang harus sedikit lebih berbeda, dalam konteks bahwa bukan persaingan harga saja tapi lebih bersifat kepada pemakaian dan fungsinya seperti apa, dan yang pasti harganya pas," pungkasnya.

Adapun smartphone terakhir yang dirilis oleh Zyrex adalah ZA989 yang diluncurkan di tahun 2017. Penjualannya pun disebut memuaskan. Tapi, sayang Timothy tidak menyebut angka penjualannya.

Zyrex sendiri selama ini lebih nyaman untuk berjualan smartphone di kota-kota tier dua. Hal ini karena menurut pandangan Timothy, kota-kota tier satu memiliki pasar yang berbeda.

"Berbeda dari segi harga, image, hal-hal yang lain," tukasnya. (mag/mag)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed