Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Awas 'Jebakan' EULA
Open Source Jadi Terlihat 'Seksi'
Awas 'Jebakan' EULA

Open Source Jadi Terlihat 'Seksi'


- detikInet

Jakarta - Adanya 'jebakan' EULA membuat gerah pengguna Windows, terutama pengusaha warung internet (warnet). Beralih ke Open Source jadi pilihan yang menarik. Dibandingkan dengan End User License Agreement (EULA) Microsoft Windows, sistem lisensi yang diterapkan Linux bisa jadi terlihat lebih menarik. Linux menggunakan sistem lisensi GNU Public License (GPL). Sebuah studi yang dilakukan Con Zymaris, CEO dari Cybersource Australia, menunjukkan bahwa hak-hak pengguna lebih banyak diakomodir oleh GPL. Sebaliknya, EULA Microsoft lebih banyak membuat larangan alias membatasi hak pengguna. Open Source juga bisa menjadi menarik karena terbuka pintu lebar-lebar untuk menggunakan software Open Source secara gratis. Sedangkan pembatasan seperti 'dilarang menyewakan' tidak terdapat dalam lisensi Linux.Lisensi GPL hanya berlaku pagi pengguna Linux yang ingin mendistribusikan kembali software tersebut. Terutama bagi yang ingin memodifikasi dan mendistribusikan Linux. Pengguna biasa bisa memilih untuk tidak menerima lisensi tersebut. Pengguna biasa juga tidak terikat dengan lisensi apapun saat menggunakan Linux. Satu hal yang perlu dicermati dari penggunaan software Open Source seperti Linux adalah tidak adanya garansi dari pembuatnya. Dicabutnya hak garansi dari software seperti Lunux disebutkan dalm dokumen GPL pasal 11. Hal Ini berbeda dengan Microsoft yang menyediakan garansi (90 hari sejak 'pembelian') terhadap softwarenya. Garansi dalam EULA disebutkan pada pasal 11 dan pasal 12.Warnet Perlu MigrasiJudith M.S., salah satu anggota dewan ketua Asosiasi Warnet Indonesia (Awari), menyetujui bahwa Open Source kini terlihat semakin menarik. "Rasanya warnet harus segera migrasi ke Open Source dan ini sebenarnya momen yang baik untuk sosialisasi IGOS (Indonesia Goes Open Source -red.)," ia memaparkan kepada detikinet, Senin (10/04/2005).Namun, penggunaan Open Source di kalangan warnet terhambat oleh pelanggan warnet. Kebanyakan pengguna warnet diakui Judith belum terbiasa menggunakan sistem operasi selain Windows. Ironisnya, menurut Judith, masih lebih banyak warnet yang menggunakan Windows tidak resmi daripada yang menggunakan Windows resmi. Sebabnya? Biaya lisensi yang terlalu tinggi.Pengusaha jasa internet asal Makasar, Adi Nugroho, juga mengatakan Open Source adalah pilihan yang baik bagi warnet saat ini. "Selain menunggu pemerintah, ada baiknya kalau dari kita sendiri bisa memulai sendiri, yaitu mulai migrasi ke opensource sedikit demi sedikit, mulai dari diri sendiri," ia menjelaskan dalam sebuah diskusi online.Adi tidak setuju jika Awari 'mengemis' untuk mendapatkan harga murah dari Microsoft. Di sisi lain, Adi juga tidak ingin Awari menjadi organisasi yang 'melindungi' pengguna software bajakan. (rouzni/)







Hide Ads