Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara pun memberi tanggapan soal hasil laporan dari Akamai tersebut.
"Tergantung mengukurnya, kalau di kota besar bisa begitu karena internet kita pakai ponsel semuanya. Ada masalah congestion, makanya akan rilis frekuensi tambahan," ujar Rudiantara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tambahan frekuensi yang dimaksudnya, yaitu pemerintah yang dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan melakukan lelang blok kosong di 2,1 GHz dan 2,3 GHz yang diperuntukkan untuk layanan 3G dan 4G.
"Akan improve lagi di kecepatan (internetnya) nanti," ucapnya dengan percaya diri.
Pada laporan State of the Internet yang dirilis Akamai untuk kuartal I tahun 2017, dilihat secara global, Indonesia ada di posisi 77. Bila dilihat dari secara kawasan Asia Pasifik, maka Indonesia menduduki urutan ke-13.
Sebagai catatan, di Asia Pasifik ini Indonesia masih kalah dari sebagian negara tetangga seperti Singapura (20,3 Mbps), Thailand (16 Mbps), Vietnam (9,5 Mbps), dan Malaysia (8,9 Mbps). Indonesia hanya mengungguli Filipina yang kecepatan internetnya di angka 5,5 Mbps.
"Cek saja tahun sebelumnya bagaimana peringkat kita. Mungkin saya yakin pengukurannya (Akamai) di kota besar," kata Rudiantara menanggapi soal persaingan internet Indonesia dengan negara di Asia Tenggara.
Berdasarkan laporan Akamai pada kuartal III 2016, Indonesia berada di posisi ke-71 secara global sehingga ada penurunan di kuartal I 2017. Namun bila dilihat kecepatan internetnya ada pertumbuhan, yang ketika itu rata-rata 6,4 Mbps sekarang naik menjadi 7,2 Mbps. (fyk/fyk)