Dalam test drive Canon Legria terbaru bertempat di Gunung Bromo, Jumat (19/3/2010). Yase Defrisa Marketing Executive PT.Datascript selaku distributor tunggal Canon menjelaskan kepada detikINET.
Menurut Yase, pasar Indonesia itu unik dan tak bisa ditebak. Kita ingat beberapa tahun lalu ketika EOS 350D hadir, tren konsumen terhadap kamera DSLR langsung meningkat pesat. Bahkan kini EOS telah menyasar konsumer entry level. "Bahkan kedudukan PowerShot sendiri mungkin bisa tergeser oleh EOS nantinya," jelas Yasenya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayang hal ini tak berlaku bagi Legria, selaku sub-brand Canon di ranah camcorder. "Menurut saya, Canon pusat sampai saat ini selalu menekankan pada kualitas tinggi, yang berdampak pada harga. Berbeda seperti kompetitor, Canon tak agresif menyasar produk di harga murah," jelasnya.
Padahal kita tahu, bahwa selera pasar Indonesia adalah camcorder murah meriah dengan tampilan user friendly. Tengoklah Sony, yang secara konsisten mendominasi camcorder entery level negeri ini, dengan fitur layar sentuhnya.
Jika dibandingkan Sony, Canon memang masih jauh tertinggal untuk pasar camcorder. Sony sendiri di akhir 2009 masih mendominasi market share di urutan satu, semetara Canon harus puas di posisi empat. Sony dikatakan terkesan menjual camcorder berharga murah, sementara Canon menjual camcorder berteknologi tinggi.
Jadi bagaimana Legria, Kapan bisa mengikuti kesuksesan EOS?
(fw/ash)