Ya, scanner Fujitsu yang dipasarkan ke seluruh dunia itu memang mayoritas diproduksi di Batam Industrial Park milik PT Siix Electronic Indonesia (SEI) sejak 1995. Baru
kemudian produksi sisanya dipasok dari pabrik rekanan Fujitsu di China, Jepang dan Vietnam.
"Alasan yang kami peroleh dari Fujitsu tak lain karena skill pekerja di Batam lebih bagus daripada di China," kata Ery Soeryawan, Manager Production Departemen Scanner SEI, kepada detikINET di sela kunjungan ke pabrik scanner milik Siix di Batam Industrial Park, Batam, Rabu (28/10/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dari penyedia lokal. "Supplier sisanya 35% dari Jepang, China, dan Malaysia."
Untuk menjadi penyedia komponen Fujitsu, Siix mengaku cukup ketat. "20 supplier lokal kita selalu kita visit tiap bulan untuk diaudit. Selalu kita cek seluruh
kandungan materialnya," lanjut Ery.
Adapun komponen lokal yang digunakan adalah mechanical part dan molding part. Sementara untuk komponen yang diimpor, antara lain seperti lensa, CCD sensor (dari
Jepang) serta PCB inverter dan lampunya (dari China). "Semua komponen yang butuhkan adalah just in time, atau harus disediakan hari itu juga agar barang tidak
menumpuk."
Setiap harinya, pabrik tersebut memproduksi tujuh jenis scanner dengan harga berkisar Rp 3 juta sampai 100 juta per unit, dengan kapasitas produksi mencapai 1600
unit. Mulai tahun depan, kapasitas produksi akan ditingkatkan dari 1600 jadi 2000 unit per hari.
"Tentunya jumlah pekerja juga akan kami tambah 30% dari 476 karyawan saat ini naik jadi 520 karyawan," kata Ery yang mengaku mayoritas pekerja tersebut datang dari
Jawa dan Sumatera.
Menurut dia, Fujitsu yang bersaing dengan Canon dan Hewlett-Packard (HP) memiliki pangsa pasar 60%. Pabrik yang dikelola Siix sendiri hingga 15 Januari 2008 lalu,
telah berhasil memproduksi scanner untuk Fujitsu sebanyak juta unit.
Menurut Ery, scanner Fujitsu memang dikenal sebagai pemindai kelas atas yang harganya lumayan mahal. Sebab, harga termurahnya saja Rp 3 juta, dan yang termahal
Rp 100 juta. Itu sebabnya, kata dia, Fujitsu selalu menyasar kepada proyek pengadaan pemerintah.
"Pada pemilu 2009 baru-baru ini, scanner Fujitsu merek Lynx 3-ADF berhasil menang tender untuk scanner pemilu sebanyak 2000 unit," ungkap dia.
Kata Ery, produk scanner tersebut kemudian diimpor ke Amerika Serikat (50%), Eropa (30%) serta Jepang dan Asia (20%). "Kalau untuk pasokan barang ke Indonesia, scanner Fujitsu ini akan dipaketkan dulu melalui Singapura baru kemudian dijual lagi melalui jalur impor masuk barang ke Indonesia."
(rou/faw)