Alhasil, ketika ditanya kemungkinannya untuk meluncurkan ponsel 'kelas bawah', Country Manager HTC Indonesia Agus Sugiharto dengan tegas mengatakan tak akan meliriknya.
"Kita tak akan main ke situ (segmen low-end), karena kita mau lebih fokus di segmen menengah ke atas," tukasnya kepada beberapa wartawan di sela peluncuran produk baru HTC di Hotel JW Marriot, Jakarta, Kamis (25/6/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi di segmen itu (menengah ke bawah -red.) jarang yang menggunakan sistem operasi. Ini berbeda dengan ponsel buatan kami yang selalu menggunakan sistem operasi seperti Windows Mobile dan Android," tuturnya.
Agus sendiri meyakini bahwa pangsa ponsel pintar di Indonesia, meski pasarnya masih kalah dari ponsel kelas bawah, memiliki masa depan yang cukup menjanjikan. "Sekarang saja smartphone atau PDA di Indonesia sudah berkembang. Lihat saja di mal-mal dan jalan sudah banyak yang menggunakannya," tukasnya.
Β
Pro 2 & Snap
Di tempat yang sama, HTC juga meluncurkan 2 produk anyarnya, HTC Pro 2 yang menyasar untuk kalangan pebisnis dan Snap untuk kalangan mahasiswa yang gemar ketik-mengetik.
Peluncuran ini sendiri terbilang singkat, mengingat dalam hitungan minggu sebelumnya HTC baru saja melempar ponsel dengan sistem operasi Android pertama di Indonesia lewat HTC Magic.
Tampilan HTC Snap sekilas mirip dengan BlackBerry. Mengandalkan track ball sebagai navigasi, serta keypad Qwerty yang disusun layaknya perangkat besutan Research in Motion itu.Β
Fitur andalan Snap adalah Inner Circle, yang membuat para pengguna dengan mudah untuk mendapatkan kumpulan email dari grup kontak yang telah dipilih sebelumnya. Harga dari produk ini adalah Rp 3,9 juta.
Sementara HTC Pro 2 datang dengan fitur yang lebih segambreng. Memiliki desain khas HTC, dengan layar 3,6 inch, keyboard slide out dan kemampuan TouchFlo 3D serta dibalut sistem operasi Windows Mobile 6.1. Sayang, harga yang dibanderol untuk produk ini juga setinggi kastanya, yakni Rp 8,9 juta. (ash/faw)