Dalam paparannya mengenai produk tersebut di Jakarta, Paula Laine, Vice President Entry Category Nokia, mengungkapkan, rata-rata biaya kepemilikan ponsel atau total cost of ownership (TCO) dari masyarakat berpenghasilan rendah di Asia, khususnya Indonesia dan India, US$ 13 atau sekitar Rp 130 ribuan.
"Nokia sangat tertantang melihat kenyataan di emerging market seperti ini. Sejak 2005 lalu, kami telah menurunkan 30% harga ponsel kami agar bisa semakin terjangkau di semua segmen," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat TCO sebagai acuan daya beli masyarakat negara berkembang, Nokia tidak merasa produknya terlalu mahal, khususnya jika dibandingkan dengan harga produk terbarunya yang dibanderol terkecil 25 euro atau sekitar Rp 320 ribu (US$ 31,6).
"Mahal atau murah itu relatif, tergantung benefit yang dirasakan pelanggan. Saya kira dengan desain dan fitur-fitur yang dimiliki Nokia, harga yang kami tawarkan relatif terjangkau," tandas Country Manager Nokia Indonesia, Hasan Aula kepada detikINET.
Pasar di Indonesia diakui cukup unik mengingat ponsel yang paling mahal sekalipun, misalnya Nokia E90, bisa laris manis dalam beberapa waktu. Bahkan orang sampai rela mengantri untuk mendapatkannya. (rou/dwn)